Scroll untuk baca artikel
Ruang Cinta Pusaka

Catatan Dari Peringatan Hari Kepurbakalaan Nasional di Kota Bogor

52
×

Catatan Dari Peringatan Hari Kepurbakalaan Nasional di Kota Bogor

Sebarkan artikel ini
Salah satu bangunan Cagar Budaya yang harus dilestarikan. Bangunan eks Percetakan Kita di Jalan Ciwaringin, karya Arsitek F. Silaban.

Kobra Post Online – Peringatan Hari Kepurbakalaan Nasional di Kota Bogor yang digelar di Museum Pajajaran, Bumi Ageung Batutulis Bogor Selatan, Selasa (25/6).

Acara diprakarsai oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Tim Ahli Cagar Budaya dan Pegiat Seni di Kota Bogor sangat menarik . Acara peringatan tersebut karena juga melibatkan siswa-siswi SMA Kosgoro,   pimpinan Herman Lasri . Siswa-siswi dilibatkan dalam acara tersebut sebagai sebuah upaya tak hanya  mendukung peringatan Hari Kepurbakalaan di Kota Bogor, namun juga memperkenalkan semua situs-situs masa prasejarah, masa klasik dan masa kolonial.

Sebuah kegiatan budaya dengan melibatkan murid-murid SMA itu memberi gambaran dan pengetahuan yang terpateri sepanjang hidup.

Dengan koordintor lapangan, Rd. Mochamad Machpud, dan pendamping  Ketua Literasi Emy, acara napak tilas dipandu oleh budayawan yang juga Ahli Cagar Budaya, Hendra Wijaya.

Dengan rinci ia menjelaskan sejarah keberadaan Situs Batu Congrkang, Situs Parit Pajajaran, Situs Rangga Pati, Situs Batutulis, Situs Bungker Gumati dan Bangunan Cagar Budaya Halte Batutulis.

Batu yang mempunyai nilai sejarah yang merupakan BCB.
Baca juga: Helaran Seni Budaya Kota Bogor, Rutinitas Tahunan Tanpa Inovasi

Dalan peringatan Hari Kepurbakalaan 1913-2024, yang mengusung tema “Penyelusuran Jejak Peninggalan” itu, dihadirkan tiga nara sumber yang memaparkan Pelestarian  Cagar Budaya di Indonesia oleh Ahli Cagar Budaya, Dewi Djukardi , Pemerhati Budaya,  Gatut Susanta yang membawa kajian peranan holok atau bedog dalam kehidupan masyarakat Pasundan, baik sebagai alat pertanian, maupun sebagai ageman.

Pembicara ketiga, Moza S.S, Magister Antropologi, dan Mahasiswa Arkeologi S3, dari FIB-UI,  memaparkan Sejarah Berdiri dan Perkembangan Kerajaan Sunda.

Sungguh menarik acara pembuka bincang-bincang kebudayaan itu menghadirkan atraksi tari jaipongan oleh siswi SMA Kosgoro.

Dewi Djukardi dengan latar belakang sarjana teknik arsitektur, kemudian memperdalam ilmu hukum hingga mendapat gelar Doktor Hukum. Dia adalah sosok Ahli Cagar Budaya Kota Bogor yang sering mengkritisi kebijakan Pemerintah Kota terkait dengan pelestarian kepusakaan dan bangunan-bangunan Cagar Budaya.

Ia juga yang berjasa menyelamatkan bangunan Cagar Budaya SMP Regina Pacis dari kepunahan, karya Arsitek Kaliber Internasional yang orang Bogor, Friedrich Silaban.

Dedie A. Rachim hadir dalam acara Peringatan Hari Kepurbakalaan.
Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Sastrawan dan Penerjemah Ali Audah

Dewi Djukardi di dalam paparannya tentang Pelestarian Bangunan Cagar Budaya dengan panjang lebar menelaah sejarah panjang upaya pelestirian di Indonesia.

 Ia juga mengambil beberapa contoh pelestarian bangunan-bangunan pusaka yang memiliki nilai-nilai sejarah di Semarang, Yogyakarta dan khususnya di Kota Bogor.

Pembicara kedua, kandidat Doktor Arkeologi, dan Sarjana Arkeologi lulusan FIB-Universitas Indonesia Noza S.S, memaparkan dengan singkat namun menyeluruh seputar Sejarah Sunda. Literatur sebagai  acuan tak hanya melalui kajian naskah-naskah Sunda Kuno seperti Sanghyang Siksakandang Karesian, Carita Parahiangan, Perjalanan Bujangga Manik, juga dilengkapi dengan karya tulis dan penelaahan melalui kepakaran Arkeolog Dr. Hasan Djafar, Dr. Ayat Rochaedi, Drs. Uka Tjandrasasmita, Prof. Dr. Buchari, Prof. Dr. Eddi Sedyawati dan Prof. Dr. Edi S. Ekadjati beserta para ahli lainnya.

Sebagai sosok belia yang berkiprah dan berlatar belakang sarjana arkeologi, Noza dengan fasih menjelaskan Sejarah Sunda (932-1579 M) dari titik awal, masa perkembangan kemudian, sampai kepada masa menjelang sirna dan hingga kepada upaya-upaya penelitian lebih lanjut hingga kiwari. Penelaahan sejarah Sunda Pajajaran dan Sunda Galuh tidak bisa tidak akan menengok dan merujuk kepada sosok Saleh Danasasmita, penulis Sejarah Bogor (1983).

Dari Kang Saleh, Sejarah Sunda Pajajaran tersebut  setidak-tidaknya telah lebih jelas dan memberi gambaran, termasuk di dalamnya silsilah Raja-raja Pajajaran dari tahun 1482 sampai tahun 1579, dari Prabu Sri Baduga Maharaja (1482-1521 M) sampai Raga Mulya (1567-1579 M).

Kabid Kebudaan, Dian Herdian bersama budayawan.
Baca juga: 2 Jembatan di Bubulak, Pangaduan dan Martadinata

Pembicara ketiga adalah  Gatut Susanta, mantan anggota  DPRD Kota Bogor, Penggiat dan Pemerhati Kebudayaan itu memaparkan fungsi dan makna senjata tajam golok, salah satu arefak budaya khas Sunda. Di Tatar Sunda dikenal dengan sebutan Bedog. Benda yang terbuat dari berbagai campuran jenis logam itu, juga memiliki bentuk dan corak yang disesuaikan dengan  fungsinya.

Gatut jauh-jauh ke Kantor UNESCO di Kota Paris, Prancis mengupayakan agar senjata ageman urang Sunda tersebut mendapat pengakuan sebagai salah satu benda warisan dunia.

Kehadiran senjata tajam di kalangan masyarakat Sunda terkait dengan pola budaya dan peri kehidupan masyarakat agraris, hingga saat ini masih digunakan di dalam kehidupan Urang Sunda sehari-hari.  Sejarah keberadaan Golok, setidaknya tercatat dalam naskah Sunda Kuna Sanghyang Siksakandang Karesian (1518), yang intinya benda ini memiliki nilai guna terkait lingkup Pertanian dan jati diri Kasundaan.

Tamu khusus yang menghadiri acara Hari Kepurbakalaan 1913-2024, adalah  Dedie A. Rachim, Wakil Wali Mota Kota Bogor  2019-2024, dikenal sangat dekat dengan budayawan dan pegiat seni.

 Dedie menyampaikan soal Pelestarian dan lingkup Kecagar-budayaan dengan  mengetengahkan persoalan-persoalan menyangkut penataan Kota Bogor.

Paparan yang paling menarik adalah ia mengemukakan perjuangan mewujudkan alias  membangun sebuah museum tematik seperti halnya Museum Pajajara

Baca juga: Dari Bus Tan Lux, Robur dan Bemo, Secercah Kisah Angkot di Bogor

 Sebagai seorang yang lima tahun mendampingi Wali Kota Bima Arya Sugiarto, Dedie ikut menangani dan memberi solusi-solusi  sekitar gonjang-ganjing penataan Kawasan Pusaka Suryakancana dan Wisata Glow Kebun Botani Bogor, juga proyek pelebaran Jembatan Jalan Otto Iskandar Dinata terkait keberadaan obyek diduga cagar budaya Jembatan Treubweg 1930.

Kehadiran Dedie yang saat ini tengah berjuang  menuju singgasana Wali Kota Bogor periode 2024-2029, akan memberi harapan baru bagi kehidupan Kebudayaan di Bogor. Tentu jika ia kelak mendapat dukungan penuh rakyat dan warga Kota Bogor, terpilih sebagai Walikota Kota Bogor.

Di tangan Wali Kota yang baru kelak, tak hanya muncul kajian-kajian budaya terkait pelestarian benda dan bangunan cagar budaya, juga pemajuan  intelektual berbudaya akan lebih terbangun. (Rachmat Iskandar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *