Scroll untuk baca artikel
Ruang Cinta Pusaka

Helaran Seni Budaya Kota Bogor, Rutinitas Tahunan Tanpa Inovasi

45
×

Helaran Seni Budaya Kota Bogor, Rutinitas Tahunan Tanpa Inovasi

Sebarkan artikel ini
Helaran seni budaya di Kota Bogor.

Kobra Post Online – Hari Jadi Bogor yang konon jatuh tanggal 3Juni 1482 itu, senantiasa mengundang tanya dan dugaan. Atas dasar apa hari jadi yang dirayakan bareng oleh wilayah Bogor yang satu atas nama Kota Bogor dan yang lain Kabupaten Bogor.

Keterangan yang diperoleh dan dibaca pada Buku Sejarah Bogor karya Saleh Danasasmita yang terbit tahun 1983 itu, ditulis dalam Lampiran. Dugaan bahwa Hari Jadi tersebut tidak dikaji mendalam dan hanya mengandalkan pemikiran Saleh Danasasmita. Tentu tak diragukan lagi kepakarannya  sebagai penulis sejarah dan kebudayaan Sunda.  Sangat perlu dilibatkan pakar sejarah, budayawan, sosok dan tokoh kasepuhan yang di Bogor, demi kejernihan dan kebenaran sejarah menyangkut hari jadi Bogor tersebut.

Apa yang patut kita petik dari Gelar Helaran Budaya  yang telah lewat 24 tahun lalu, terkait dengan Hari Jadi Bogor tahun 2024? Yang pertama tentu teladan etos kerja dari sosok Sang Budayawati yang memiliki talenta berkesenian yang tinggi dan tanpa pamrih. Saat latihan di sanggar Yayasan Palataran Pakujajar Sipatahunan di Jalan Loader nomor 1, Kompleks Bina Marga Baranangsiang, semua pegiat dan pelaku seni, budayawan serta pemerhati budaya yang terlibat dalam  Gelar Budaya tersebut merasa nyaman berlatih dan bercengkrama dengan Ema Ageung.

Nama yang tepat, bermakna bagai seorang Ibu alias Ema yang begitu Ageung perhatiannya kepada kehidupan dan perkembangan kesenian di Kota Bogor. Gelar Budaya itu tak hanya mendapat perhatian dari para budayawan Bogor, namun juga tercatat beberapa budayawan dari Kota Bandung. Di balik itu, kunci sukses datang dari dukungan dan perhatian yang besar dari Wali Kota Bogor, Iswara Natanegara.

Kiwari tahun 2024, artinya bertepatan dengan usia Bogor yang ke 542 tahun. Apakah akan dirayakan tanpa perubahan, tanpa inovasi dan tanpa perkembangan yang seyogianya mampu menggali jati diri Sunda Bogor. Sekaligus membangkitkan nilai nilai kreativitas dan  karancagean warganya.

Apakah Pemerintah Kota Bogor hanya bangga dengan gelar budaya dalam bentuk Helaran Budaya yang rutin dan monoton sejak tahun 2000? Namun Helaran Budaya yang pertama kali digelar di Bogor tahun 2000 itu bukan dalam rangka Hari Jadi Bogor.

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Sastrawan dan Penerjemah Ali Audah

Pagelaran seni Sunda yang digelar pada hari Kamis 23 November 2000 itu dipandang sebagai pagelaran kolosal yang melibatkan seribuan seniman, budayawan dan warga kota Bogor, dan dinilai amat sukses.

Keberhasilan Helaran Budaya yang untuk pertama kali diselenggarkan di Kota Bogor itwesebut tentu bukan asal gelar yang turun dari langit. Namun dengan konsep pemikiran yang jernih dan matang. Di balik sukses tersebut ada sosok budaya yang kharismatik dan berwibawa. Sosok itu adalah Tien Rostini Asikin.

Helaran Budaya yang telah menjadi bagian dari rangkaian ritual Hari Jadi Bogor, pada hakekatnya bukan hanya gelar budaya yang biasa-biasa tanpa makna. Namun giat budaya yang akan memberi dampak positif bagi perkembangan bisnis,  kepariwisataan dan kebudayaan itu sendiri.

Kota Bogor memiliki aset-aset budaya, kepariwisataan dan ekonomi yang amat berlimpah dan meyakinkan. Persoalan yang mendasar dan sangat penting tentu tertuju kepada marwah inohong dan kebijakan wali kota beserta jajarannya. Jika dikemas lebih  profesional serta inovatif.

Helaran Budaya adalah salah satu penyumbang besar bagi APBD Kota Bogor. Sudah saatnya  berevolusi mental dan budaya terkait Helaran Budaya.

Baca juga: Raharja Gawe Rancage

Tak bisa dipungkiri biaya penyelenggaraan Helaran Budaya sangat mahal. Adakah pemikiran ke depan mencitpakan Helaran Budaya yang lebih berwibawa. Artinya mengangkat Gelar Kebudayaan yang tak sekedar hambur-hambur uang dan hura-hura semata.

Menyimak Helaran Budaya yang menjadi atraksi tetap pada setiap peringatan Hari Jadi Bogor, tentunya perlu dikaji lebih cerdas. Mengingat biaya penyelenggaraan gelar budaya yang bersifat kolosal itu setiap tahun cenderung naik alias semakin mahal. Pembiayaannya tak hanya menggunakan APBD, dalam hal ini Dinas Kepariwisataan dan Kebudayaan Kota Bogor. Di luar itu, demi tuntutan agar lebih meriah, maka dilibatkan partisipasi dari wilayah Kelurahan dan Kecamatan yang justru bukan tupoksinya.

Mereka membuat dan menyiapkan dongdang yaitu seperangkat lengkap jenis  makanan dan hasil bumi setempat yang direka sedemikian rupa dalam bentuk dipanggul bersama. Biaya pengadaannya tak kurang dari setengah juta rupiah bahkan lebih.

Biaya itu akan semakin membengkak jika di wilayah kecamatan atau kelurahan itu memiliki sanggar seni dan budaya yang harus ikut tampil. Tentu perlu biaya tak sedikit walau sekedar transpotasi atau uang lelah.

Baca juga: 2 Jembatan di Bubulak, Pangaduan dan Martadinata

Pertanyaan yang mendasar, dari mana lurah atau camat untuk menanggulangi pembiayaan tersebut? Tidak semua lurah atau camat bisa mencari donasi dari pengusaha setempat, dan ujungnya tentu saja mengandalkan anggaran kecamatan atau kelurahan yang bukan untuk acara helaran.

Perlu pemikiran yang lebih obyektif dan rasional, apakah sejauh ini ada dampak positif dari Helaran Budaya yang secara finansial menguntungkan masyarakat luas, terutama warga masyarakat yang bergiat dalam lingkup ekonomi dan bisnis? Hingga kini Helaran diidentikan dengan pestanya pejabat dan petinggi Pemerintah Kota Bogor. Menunggang kuda dengan memakai raksukan beskap Menak Sunda tradisional. Hanya sekedar hura-hura sesaat sesudah itu tak ada gemanya.

Hilang begitu saja dan muncul kembali setahun kemudian dengan atraksi dan penampilan stagnan, tanpa inovasi dan perubahan makna yang berarti.

Ternyata keberhasilan sebuah gelar dan atraksi Helaran Seni-Budaya yang kolosal dan  monumental, sejatinya perlu niat, dana, kerja dan promosi yang besar.

Pada akhirnya, sejatinya penyelenggaraan Helaran Budaya tak hanya bagian dari olah fikir dan karancagean serta kamitekaran pegiat seni semata. Namun bahan pemikiran dan evaluasi ke depan bagi setiap wali kota agar gelar Helaran Budaya itu bukan sekedar rutinitas dan demi kemeriahan sebuah acara dan ritual Hari Jadi Bogor.

Baca juga: Dari Bus Tan Lux, Robur dan Bemo, Secercah Kisah Angkot di Bogor

Tak hanya berhenti sampai di situ, apakah Gelar  Helaran Budaya itu ada dampak langsung atau tidak langsung dirasakan oleh dunia kepariwisataan Kota Bogor? Artinya ada lonjakan kunjungan wisata, pemesanan dan tingkat hunian hote-hotel bertambah serta yang paling utama apakah para pedagang kecil menikmati gebyar Helaran itu. Atau cuma ketiban pulung oleh kemacetan di sejumlah ruas jalan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *