Saat masih kuliah, Ibu Yati pernah bekerja sebagai penterjemah pada sebuah lembaga asing, British Information Service, di Jakarta. Karena dirasa pekerjaan sebagai penerjemah menjemukan, hanya beberapa bulan kemudian pindah bekerja di kantor Dinas Purbakala, yang saat itu dikepalai oleh Prof. Dr. A. J. Bernet Kempers. Ia menjadi sebagai Student Asistent, mendapat gaji sebagai tenaga bulanan dan di izinkan meninggalkan kantor untuk mengikuti kuliah di Fakultas Sastra.
Tahun 1948, saat pertama kali bekerja di Kantor Dinas Purbakala yang kemudian berganti nama menjadi Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional, adalah awal karier sebagai arkeolog, peneliti dan penulis tangguh sampai akhir hayatnya. Di kantornya yang baru itu ia tak hanya berkenalan dengan arkeolog-arkeolog berkeahlian khusus seperti Ir. van Romondt, arsitek yang menangani urusan monumen-monumen, Drs. J.G. de Casparis yang epigraf. Juga ketemu dengan R. Soekmono, teman seangkatan saat kuliah di Fakultas Sastra, yang kemudian menjabat Kepala Dinas Purbakala. Soekmono juga terkenal sebagai akhli tentang Candi Borobudur sampai pada kemampuannya menangani pemugaran candi yang termasyhur di dunia itu, hingga tuntas.
Sebuah pengalaman yang bersejarah saat bekerja di Dinas Purbakala, setahun setelah lulus dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia, tahun 1954, melakukan penelitian arkeologi di Sumatra Selatan dan Jambi. Atas inisiatif dan perintah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang saat itu di jabat oleh Mr. Muhammad Yamin, maka memberangkatkan Tim dengan pimpinan Drs R. Soekmono dengan mengikut sertakan empat arkeolog kawakan dari Belanda dan Prancis, yaitu Dr. H. R. Heekeren, ahli prasejarah, Dr. J.G. de Casparis epigraf, Dr. Louis Damais, epigraf, dan Dr. H.Th Verstappen, ahli geomorfogi, dalam tim tersebut tercatat Satyawati Suleiman, Buchari, Uka Tjandrasasmita, R. P. Soejono dan beberapa yang lain.











