Scroll untuk baca artikel
Ruang Cinta Pusaka

Jejak Pakuan Pajajaran Berdasarkan Naskah Sunda Kuno

9074
×

Jejak Pakuan Pajajaran Berdasarkan Naskah Sunda Kuno

Sebarkan artikel ini
Naskah
Naskah sunda kuno di daun Lontar.

Kobra Post Online – Naskah Carita Parahyangan merupakan sebagian dari kropak bernomor Kr. 406 yang menjadi koleksi Perpustakaan Nasional. Naskah itu digoreskan pada 47 lempir daun nipah, setiap halaman bertuliskan empat baris.

Carita Parahyangan bersifat naskah sejarah yang berasal dari zaman akhir Kerajaan Sunda abad ke-16 yang menurut sejarawan Dr. Nina H. Lubis menganggap sebagai sumber primer sejarah.

Menurut pakar lain, arkeolog-linguis Prof. Ayatrohaèdi bahwa untuk menjadikannya sebagai sumber sejarah masih memerlukan kajian yang teliti dan hati-hati. Beberapa ahli telah mengajukan identifikasi waktu penulisan naskah tersebut.

Pleyte menduga masa penulisan naskah Carita Parahyangan ini antara “pengislaman” Galuh (1528) dan kira-kira tahun 1570 M, sebelum kerajaan Pajajaran runtuh.

Drs. Atja (1981: iii) kurang menyetujui dugaan itu, dengan asumsi bahwa hal yang memastikan limit waktu penulisan naskah tersebut adalah pemberitaannya mengenai raja Pajajaran terakhir yang memerintah selama sadewidasa “12 tahun”.

Hal inilah yang menunjukkan bahwa naskah itu tertulis pada atau sesudah tahun 1579 M. Sehubungan dengan jangkauan isinya, menurut  Prof. Dr. Èdi S. Èkadjati, hingga saat ini pada umumnya para pengkaji sejarah bersepakat menduga penulisan naskah Carita Parahyangan dalam tahun 1580 M.

Menurut sejarawan Prof. Edi S.  Ekadjati yang pernah menelaah naskah Carita Parahyangan, bahwa beberapa ahli telah mengajukan identifikasi waktu penulisan teks naskah dalam kropak 406 ini. Yang di dalamnya sebenarnya berisi dua buah teks yang ditulis atau digoreskan dengan menggunakan tanda-tanda tertentu sebagai pembeda bagi kedua-duanya. Kedua naskah teks itu di sebut-sebut sebagai Carita Parahyangan dan Fragmen Carita Parahyangan.

Masih menurut Edi S. Ekadjati, secara garis besar teks naskah Fragmen Carita Parahyangan berisi tiga kisah utama para penguasa kerajaan Sunda berpusat di Pakuan Pajajaran.

Adapun maksud kisah itu adalah : (1) Pendahulu Maharaja Trarusbawa. (2) Maharaja Trarusbawa penguasa Pakuan Pajajaran yang bertakhta di keraton Sri-Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Dan (3) Rakeyan Darmasiksa penguasa dari Saunggalah yang kemudian mewarisi takhta di Pakuan Pajajaran.

Baca juga: Mengulik Asal Usul Nama Jasinga

Fragmen Carita Parahyangan

• Pendahulu Maharaja Trarusbawa

Beberapa tokoh yang di sebut-sebut sebagai perintis berdirinya pusat kekuasaan di Pakuan adalah :

  1. Bagawat Angga Sunyia yang berkedudukan sebagai Batara Windupepet.
  2. Sebagai Prebu Hujung Galuh yakni Bagawat Angga Mrewasa.
  3. Bagawat Angga Brama yang berkedudukan di Pucung. Namun ia dibunuh oleh Sang Pandawa. Peristiwa ini diabadikan pada “buyut lingga” ‘prasasti’ oleh Trarusbawa.

• Maharaja Trarusbawa Penguasa Pakuan Pajajaran

Kisah ini menempati sebagian besar teks Fragmen Carita Parahyangan yang tertuang dalam 20 lempir  halaman. Dikisahkan bahwa Trarusbawa adalah pengganti Bagawat Angga Brama, dan ia berhasil memindahkan lokasi keraton Sri-Bima Punta Narayana Madura Suradipati dari Rancamaya ke sebuah perbukitan yang sekaligus diperindahnya bersama dengan Bujangga Sedamanah.

Sejak itu, Pakuan menjadi pusat pemerintahan kerajaan Sunda di bawah Maharaja Trarusbawa untuk mengendalikan para penguasa wilayah, yakni :

  1. Penobatan Sang Ratu Putih sebagai Batara Danghyang Guru di Galunggung yang berpusat di Sukasangtub.
  2. Bagawat Sangkan Windu di Denuh yang berpusat di Jambudipa.
  3. Bagawat Resi Kelepa sebagai Batara Waluyut di Mandala Cidatar yang berpusat di Medang Kamulan.
  4. Penobatan Bagawan Cinta Putih sebagai Batara di Geger Gadung yang berpusat di Bantar Bojong Cisalak.
  5. Bagawat Resi Karangan sebagai Preburaja di Kandangwesi yang berpusat di Papadayan.
  6. Penobatan Bagawat Cinta Premana sebagai Sanghyang Premana di Puntang yang berpusat di Gunung Sri.
  7. Bagawat Tiga Warna di Mandala Puncung yang berpusat Lamabung.
  8. Penobatan Bagawat Pitu Rasa sebagai Batara Sugihwarna di Mandala Utama Jangkar yang berpusat di Gunung Tiga.

Pada bagian berikut menyebutkan bahwa Maharaja Trarusbawa mengeluarkan ketentuan berupa hak bagi para penguasa wilayah di kerajaan Sunda (pangwerwg). Serta kewajiban mempersembahkan upeti dari para penguasa wilayah ke ibu kota Pakuan setiap tahun (panwatan), sebagai tanda setia.

Baca juga: Kawasan Suryakancana dan Warisan Tionghoa

Maharaja Harisdarma selanjutnya menggantikan Maharaja Trarusbawa, tapi kemudian takhta kerajaan diwarisi para penggantinya secara berebutan.

Mulai dari Rahyang Tamperan lalu kepada Rahyang Banga, Rahyang Wuwus, Prebu Sanghyang, Sang Lumahing Rana, Sang Lumahing Tasik Panyjang, Sang Winduraja, dan berahir kepada Rakèyan Darmasiksa.

• Rakèyan Darmasiksa Penerus dari Saunggalah

Berikut kisah ketiga dari Fragmen Carita Parahyangan. Tertulis bahwa Rakèyan Darmasiksa merupakan penjelmaan Patanjala sakti, sehingga tatkala ia meminta lahan di Saunggalah atas warisannya. Batara Danghyang Guru menyerahkan lahan itu secara sukarela.

Adapun batas-batas wilayah Saunggalah adalah lereng Cipanglebakan, dari sebelah selatan batasnya Geger Gadung, Geger Handiwung, Pasir Taritih di muara Cipager Jampang. Kemudian batas Windupepet adalah  Manglayang dan Padabeunghar.

Rakèyan Darmasiksa bertakhta di Saunggalah selama 12 tahun yang kemudian menyerahkan kepada puteranya, Rajaputera. Setelah menyerahkan Saunggalah kepada puteranya, Rakèyan Darmasiksa bertakhta di keraton Sri-Bima Punta Narayana Madura Suradipati di Pakuan Pajajaran mewarisi peninggalan para pendahulunya. Ia memegang kekuasaan di Pakuan Pajajaran selama 110 tahun.

Sebagai catatan akhir perlu di tulis di sini sebuah cuplikan penting dari naskah Carita Parahyangan yang sering menjadi rujukan sejarawan Sunda tentang Sri Baduga Maharaja.

Cuplikan ini dikenal dan ditemukan dalam lempir no 30a, sebagai berikut:

Sanghyang Huluwesi nu nyaeuran Sanghyang Ranycamaya. Mijil nata Sanghyang Ranycamaya, ‘Ngaran kula Sang Udubasu, Sang Pulunggana, Sang Gurugana, Ratu Hyang Banaspati.’

Sang Susuktunggal inyana ny[y]ieun[a] palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran, nu mikadatwan Sri-Bima (P)unta (N)arayana Madura Suradipati; Inyana Pakwan Sanghyang Sri Ratu Dewata.

Baca juga: Peranan Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Perkembangan Bogor

Naskah Carita Parahyangan yang telah di tulis hampir empat setengah abad lalu itu, sampai hari ini belum di temukan siapa penulisnya. Berbeda dengan Naskah Nagarakretagama karya Prapanca misalnya. Ini tentu sebuah tantangan dan pekerjaan rumah para budayawan Sunda untuk menyelusuri lebih lanjut.

Tulisan ini juga tidak terlepas dari hasil telaah para akhli yang telah dengan serius ngaguar naskah penting tersebut. Dari F. K. Holle, Noorduyn, sampai Saleh Danasasmita, Edi S. Ekadjati dan Undang A. Darsa. Semoga budayawan Kota Bogor menambah daftar peneliti dan penulis dalam jajaran yang peduli terhadap sejarah Bogor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *