Scroll untuk baca artikel
Ruang Cinta Pusaka

Catatan Sejarah, Pelebaran Jembatan Otista Kedua Kalinya

2696
×

Catatan Sejarah, Pelebaran Jembatan Otista Kedua Kalinya

Sebarkan artikel ini

Antara membawa Rahmat dan Laknat

catatan sejarah

Kobra Post Online – Jika jembatan Otto Iskandardinata (Otista) dibangun dengan metode modern tahun 1930, kemudian diperlebar pada 1977, maka agak lumayan catatan sejarah ditorehkannya. Tentunya sebuah keuntungan bagi Pemerintah Bogor, karena perjalanan kehadiran jembatan Otista dengan bentuk struktur lengkung yang indah itu akan memberi petunjuk pula pada perjalanan perkembangan sejarah Bogor.

Apa yang dilakukan Pemerintah Kota Bogor dengan melebarkan jembatan Otto Iskandardinata yang berlokasi di kawasan paling pusaka, yakni Kawasan Pusaka Kebun Botani, Istana Bogor, Kawasan Pusaka Suryakancana dan Tugu Kujang, tentunya sudah melalui pertimbangan yang sangat matang. Apakah sudah dikaji melalui diskusi dan pemikiran bersama dengan dinas-dinas terkait?

Namun, apakah juga sudah ditelaah oleh para pemerhati sejarah dan kebudayaan, tim ahli cagar budaya dan ahli sejarah serta pemerhati kota pusaka? Sejauh ini belum ada berita teristimewa dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang nota bene lebih mengetahui catatan sejarah Kota Bogor terkait nilai kecagarbudayaan Jembatan Otista yang telah berumur 93 tahun itu.

Catatan Sejarah, Pelebaran Jembatan Otista

Ada jangka waktu sekitar 47 tahun antara pembangunan jembatan lengkung dengan struktur beton bertulang tahun 1930 dengan pembangunan pelebaran jembatan yang menggunakan teknik struktur beton bertulang prategang tahun 1977-1978.

Selanjutnya, 46 tahun kemudian Cagar Budaya Jembatan Otista itu mengalami pelebaran yang kedua di masa Wali Kota Bima Arya.

Catatan Sejarah, Pelebaran Jembatan Otista Kedua Kalinya
Baca juga: Jembatan Otista Kota Bogor Akan Ditutup Mulai 1 Mei 2023

Ada sebuah pemeo yang berbunyi terkait pembangunan, bahwa pembangunan acap kali berdampak ganda: Disatu sisi ia adalah rahmat dan di sisi yang lain adalah laknat.

Terkait dengan itu, pembangunan Jembatan Otista adalah sebuah upaya mengurai kemacetan yang menghambat kelancaran dan kenyamanan kota disatu sisi. Namun, di sisi yang lain sirnanya salah satu pilar kepusakaan dan cagar budaya milik Kota Bogor.

Saleh Danasasmita menulis bahwa, perkembangan berarti sejarah Bogor adalah saat Herman Willem Daendels menjabat Gubernur Jenderal pada awal pemerintahan Hindia Belanda tahun 1808-1811.

Pada masanya struktur pemerintahan, kedudukan bangsawan dan keraton diporak-porandakan. Tak hanya itu, ia dengan tegas membangun Jalan Raya Pos. Disusul kemudian oleh GG Rochussen jalur rel KA dibangun.

Lebih dari satu abad kemudian, perkembangan Bogor secara fisik telah merubah bentuk morfologi kawasan kota. Diperjelas kemudian saat perluasan ke sebelah timur Sungai Ciliwung tahun 1920-1930.

Bahwa pembangunan Jembatan Otista dan Jembatan Pabrik Gas yang berselang dua tahun (1928-1930), tentu terkait dengan upaya pembangun kawasan Kota Bogor oleh arsitek dan planolog Ir. Herman Th. Karsten.

Bagi pemerhati kepusakaan, sejarawan, dan pelestari cagar budaya di Kota Bogor tak memiliki pilihan yang terbaik di dalam upaya menyelamatkan aset-aset budayanya.

Dalam hal obyek cagar budaya yang terkena imbas pembangunan kota, sewajibnya Bidang Kebudayaan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor melakukan pendokumentasian terhadap obyek cagar budaya bersangkutan.

Hal ini perlu demi kepentingan dan catatan arsip sejarah Kota Bogor agar tidak kehilangan jejak dan pareumeun obor bagi anak cucu kelak.

Pelebaran Jembatan Otista Urai Kemacetan

Proyek pelebaran Jalan Otista yang akan dimulai pembangunannya pada 1 Mei 2023, diperkirakan akan rampung pada 8 Desember 2023 mendatang. Selama pekerjaan berjalan yang memakan waktu sekitar delapan bulan, jalur jembatan itu akan ditutup bagi semua pengguna.

Pemerintah Kota Bogor tentu sudah memperhitungkan berbagai resiko yang terjadi akibat penutupan jembatan itu.

Pembangunan pelebaran jembatan ini pada hakikatnya adalah satu upaya untuk mengurai kemacetan sepanjang jalur jalan dari Tugu Kujang sampai Bogor Trade Mall (BTM).

Catatan Sejarah, Pelebaran Jembatan Otista Kedua Kalinya
Baca juga: Antara Sawahlunto dan Kota Bogor

Kondisi macetnya di jalur ini tentu terkait dengan semakin membengkaknya jumlah kendaraan pribadi beroda empat dan  sepeda motor. Dalam hal ini tentu bukan semata-mata oleh kehadiran angkutan kota yang menjadi biang kerok kemacetan di Kota Bogor.

Mengingat luas wilayah kota yang sangat terbatas, tentu sedikit kemungkinan untuk membangun jalan baru. Sementara jumlah semua jenis kendaraan semakin tak terkendali populasinya.

Dua periode Pemerintahan Kota Bogor di bawah kepemimpinan Bima Arya Sugiarto (2014-2024), telah banyak mengalami perubahan dan perkembangan fisik Kota Bogor.

Dari penataan Kawasan Pusaka Suryakancana, revitalisasi berbagai taman-taman kota sampai Taman Topi menjadi Alun-Alun Kota Bogor dan pedestrianisasi kawasan kota.

Tentunya, tak dipungkiri akan berdampak tergerusnya nilai-nilai kepusakaan, disadari atau tidak disadari terkait dengan catatan sejarah Kota Bogor.

Semoga pembangunan yang akan membawa perubahan positif bagi sebuah kota tua yang namanya Bogor, tak hanya akan merubah ruh, bentuk dari wajah kepusakaannya, tetapi akan merubah semangat vitalisasi demi menjaga dan  melestarikan nilai kepusakaan dan cagar budaya di Kota Bogor itu sendiri.

Akhirnya, upaya pelestarian kepusakaan dari kecagarbudayaan tak hanya bersikutat di lingkaran Cagar Budaya Jalan Otista.

Di luar itu masih teramat banyak artefak budaya dan tinggalan sejarah masa klasik, masa kolonial Belanda dan pasca kemerdekaan yang  perlu perhatian dari berbagai pemerhati dan pemangku kebudayaan di Kota Sain, Kota Pusaka Bogor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *