Scroll untuk baca artikel
Ruang Cinta Pusaka

Mengenal Lebih Dekat Makam Belanda di Kebun Raya Bogor

5693
×

Mengenal Lebih Dekat Makam Belanda di Kebun Raya Bogor

Sebarkan artikel ini

BOGOR, Kobra Post OnlineKota Bogor memiliki dua pemakaman Belanda, yang pertama di Kompleks Kebun Botani Bogor dan yang kedua di Cipaku yang merupakan pindahan dari Kerkof di Jalan Kebon Jahe. Lokasi pemakaman Belanda dulu, kini beralih fungsi menjadi Pusat Batik Bogor.

Sekitar tahun 2009, jika mengunjungi kerkof Cipaku saya masih bisa menikmati patung-patung simbol kematian yang indah, sosok patung bergaya neo klasik namun kini tak satupun dijumpai, telah raib dijarah tangan-tangan yang tak mengerti pentingnya sejarah. Syukur masih ada makam Arsitek F. Silaban yang terawat baik dengan rumput masih hijau diatas pusara tersebut.

Terkait pemakaman Belanda sering saya mengunjunginya sendirian. Jalan-jalan diantara makam-makam yang umumnya berbentuk monumen batu segi empat pendek. Sesekali membaca teks yang tertera pada bidang bagian depan makam tersebut.

Baca juga: Peranan Gubernur Jenderal Hindia Belanda

Kerkhof yang terletak tepat dibelakang Kantor Pos itu adalah kawasan pemakaman Belanda yang usianya lebih tua dari Kebun Botani. Karena kuburan tertua adalah milik Cornelis Potmans yang meninggal dan dikubur pada 2 Mei 1784.

Kebun Botani Buitenzorg seperti diketahui diresmikan pada 18 Mei 1817. Jadi ada selisih waktu 33 tahun antar keduanya. Sedangkan pemakamam terakhir adalah ketika Prof. Dr. Andrè Joseph G. H. Kostermans, botanikus termashur ketika meninggal dan dimakamkan pada 10 Juli 1994. Ia memang telah berwasiat jika meninggal dunia ingin dimakamkan di Kebun Botani Bogor dibawah naungan keteduhan pohon-pohon yang dicintainya.

Kerkhof dengan luas sekitar 700 m² itu terbaring 34 jasad sosok orang Belanda, dengan latar belakang kehidupan yang berbeda-beda. Dari sosok Gubenur Jenderal masa VOC, sampai yang tak sempat memiliki nama karena meninggal saat dalam kandungan beserta ibunya.

Dari 34 jasad yang dimakamkan itu, tercatat seorang Gubernur Jenderal, Dominique Jacques de Eerens. Ia menjabat dari tahun 1836-1840, adalah Gubernur Jenderal Hindia- Belanda ke 9.

Dalam tugasnya di Hindia-Belanda ia mengakhiri Perang Paderi. Pada tanggal 30 Mei ia meninggal di Bogor. Ia wafat mendadak saat masih menjabat gubernur jenderal.

Catatan dalam epitaph hanya tertulis: (Tempat peristirahatan DJ de Eerens. Letnan Jenderal. Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Beristirahat dalam damai).

Baca juga: Mengenal Bunker Tinggalan Masa Kolonial Belanda di Bogor Selatan

Selain D.J. de Eerens, di Kebun Raya Bogor, terbaring jasad putera dan puteri Gubernur Jenderal Van den Bosch (1830-1834), mereka adalah Adriana van den Bosch, puterinya yang wafat dalam usia 23 tahun pada 18 September 1831. Dan Johannes Hendrik Lodewijk Otto van den Bosch, puteranya yang wafat dalan usia 2 tahun pada 20 Juni 1836. Johannes dilahirkan dan wafat di villa keluarga van den Bosch di Pondok Gede di utara Bogor.

Puteri gubernur jendral lain yang wafat dan dikubur di tempat yang sama adalah Gertrude Jacqueline Otto van Rees. Wafat pada 28 September 1886, ia adalah puteri Van Rees daru isteri keduanya, Johanna Sara Wilhelmina van Braam Morris.

Yang menarik adalah kuburan milik Ary Prins, ahli hukum Belanda yang wafat di Batavia pada 28 Januari 1876. Prins adalah ketua Raad van Nederlansch-lndie, tercatat pernah dua kali jadi pejabat gubernur jenderal antara 2 September-19 Oktober 1861 dan 25 Oktober 28 Desember 1866. Kuburannya paling besar, terbuat dari batu cadas kelabu. Makam tersebut berbentuk monumen dengan bidang dasar berukuran 2 kali 2 meter dan tinggi sekitar 4 meter.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *