Scroll untuk baca artikel
Ruang Cinta Pusaka

Kawasan Suryakancana dan Warisan Tionghoa

8318
×

Kawasan Suryakancana dan Warisan Tionghoa

Sebarkan artikel ini
Suryakancana
Lawang Suryakancana

Selain itu,  taoci dan tahu yang sering dijadikan dalam menu hidangan. Didalam pertulisan Jawa kuno berasal dari Jawa Timur dan berangka tahun 902 M. Bahwa tahu maupun tanaman kacang hijau muncul hanya beberapa waktu setelah penyebarannya di negerinya sendiri, Tiongkok.

Masih di kawasan Suryakancana, tepatnya di wilayah Babakan Pasar masih ditemukan perangkat dan peralatan untuk pembuatan makanan tahu. Berupa batu berbentuk silinder untuk menggiling kacang hijau, alat pemutar dan lempeng dari batu andesit untuk mengalirkan air perasan tahu. Hal ini menunjukkan bahwa sudah sejak lama industri rumahan pembuatan tahu dikenal di sekitar Kawasan Pecinan Suryakencana.

Tak hanya itu sejumlah tanaman berguna, yang dibudidayakan di Jawa dan dikenal dengan nama yang berasal dari Tiongkok. Diperkenalkan selama berabad-abad terakhir ini oleh pekebun peranakan.

Kawasan Suryakancana
Suryakancana tempo dulu

Juga beberapa contoh sayuran, kucai dan lukio yang merupakan jenis bawang, lobak dan pecai atau sawi. Warisan Tionghoa lainnya yaitu caisin sejenis kubis dan kailan sejenis bayam.

Kemudian, beberapa istilah teknik yang dipinjam dari berbagai dialek Tionghoa oleh bahasa pengantar Indonesia atau Jawa. Antara lain kata loteng yang berasal dari lou-ding dan ubin dari kata you-mian. Dari bahasa Tionghoa masih ada istilah lain yaitu cat dan istilah yang lebih spesifik  yakni “engkah” atau lem kayu dan gincu.

Kawasan Suryakancana juga terkenal dengan kudapan. Makanan atau kuliner yang diwarisi oleh  budaya Tionghoa, seperti mie, pangsit, tim sum dan bakso. Warisan budaya Tionghoa tentunya tak hanya kuliner semata. Namun telah merasuk sampai ke aspek kesenian, antara lain dalam bentuk sastra dan seni tari, ilmu keteknikan, arsitektur, sampai busana dan cipta kriya.

Baca juga : Mengulik Asal Usul Nama Jasinga

Jika dalam tulisan ini lebih menyangkut kepada aspek makanan, dimaksudkan sebagai pembuka hazanah. Betapa kuliner yang kita rasakan selama ini adalah warisan budaya Tionghoa yang tak sadar telah menyatu dalam kehidupan di kawasan Suryakencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *