Scroll untuk baca artikel
Info Bogor

Polemik Pembangunan Bumi Ageung Batutulis

1871
×

Polemik Pembangunan Bumi Ageung Batutulis

Sebarkan artikel ini
bumi.
Pintu gerbang Bumi Ageung Batu Tulis sudah dibangun. Dilokasi ini Bumi Ageung Batu Tulis akan dibangun.

BOGOR, Kobra Post Online – Rencana Pemerintah Kota Bogor membangun Bumi Ageung Batu Tulis di kawasan Situs Batutulis Kecamatan Bogor Selatan Kota Bogor, mengundang polemik bahkan penolakan dari para Arkeolog serta budayawan yang tergabung dalam berbagai organisasi serta paguyuban.

Mereka menilai kehadiran Bumi Ageung tidak mencerminkan khas kasundaan Padjadjaran. karena design bangunan lebih mencerminkan gaya bangunan kerajaan Jawa Timur.

Penolakan itu terlontar dalam pertemuan bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor, di Auditorium Gedung Arsip dan Perpustakaan Kota Bogor pada Rabu (21/6) kemarin.

Pada pertemuan itu arkeolog dari Universitas Indonesia, Prof. Agus Arus Munandar, menilai letak serta bentuk gerbang hingga keseluruhan bangunan untuk situs Batutulis seharusnya mencirikan nilai-nilai Kasundaan.

“Berdasarkan literasi, letak situs cenderung lurus berada di selatan. Gerbang nya di sebelah Utara, bukan membentang dari barat ke timur,” kata Prof. Agus Arus Munandar.

Baca juga: Peringati Hari Bumi, Pemkot Bogor Perbanyak RTH

Sementara itu budayawan muda Kota Bogor Putra  Sungkawa menjelaskan design bangunan Bumi Ageung tidak mencerminkan adat dan kebudayaan Sunda atau ciri Kasundaan. Melihat dari denah yang ditunjukkan, bangunan tampak seperti benteng pertahanan perang.

“Padahal masyarakat sunda memiliki arsitektur rumah adat yang sarat dengan filosofi Design bangunan yang rencana akan berdiri, seperti tempat rekreasi kekinian, padahal prasasti Batutulis merupakan tempat sakral,” lanjutnya.

Ia menegaskan, lokasi itu merupakan tempat Kabuyutan. Prasasti yang memiliki nilai luhur dalam sejarah. Jika dijadikan lokasi pentas seni, tentunya tidak semua kategori seni sesuai dengan nilai-nilai budaya yang luhung.

bumi
Baca juga: Berkunjung ke Markas UNESCO, Wali Kota Bogor Dorong KRB Jadi Situs Warisan Dunia

Sebaiknya kata Putra, kalau Bumi Ageung yang berarti rumah, desain layaknya Imah Adat Sunda saja. Tidak menggiring pembangunan ke ranah arsitektur kerajaan.

“Seharusnya design bangunan merujuk pada Imah Adat Sunda seperti Tagog Anjing, Parahu Kumureb, Badak Heuy, Buka Pongpok, Jolopong, Jubleg Nangkub atau Capit Gunting. Bukan bergaya kerajaan!,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *