Terkait penolakan para budayawan serta pandangan arkeologi Prof Agus Aris Munandar, menilai pembangunan di kawasan Situs Batutulis tidak sesuai literasinya.
Ditempat terpisah pengamat Cagar Budaya, Rachmat Iskandar menyebutkan, rencana Kota Bogor membangun semacam Pusat Kebudayaan dengan biaya cukup besar itu tentu suatu hal yang positif. “Teristimewa lokasi Pusat Kebudayaan yang diberi nama Bumi Ageung itu berlokasi di kawasan pusaka dan kabuyutan Batutulis,” kata Rachmat.
Menurut Rachmat, rencana pembangunan Bumi Ageung sejak awal memang sudah tersandung masalah besar karena tiada upaya melibatkan potensi dan aset budaya yang dimiliki Kota Bogor, termasuk di dalamnya para pakar dibidang kebudayaan, Sejarawan, Arkeolog, Arsitek, Epigraf, Sosok sosok sesepuh Kota Bogor.
“Jadi, jika kemudian hasil perancangan dan perencanaan tidak menceminkan jati diri Kasundaan dan jati diri Sunda Pajajaran memang sudah dipredisi,” ucapnya yang dihubungi Rabu (21/6) malam.
Penulis tetap Ruang Cinta Pusaka Kobra Post ini menilai bahwa desain keseluruhan dari perencanaan itu justru menghadirkan unsur budaya yang tidak ada kaitannya dengan unsur budaya khas Sunda. Malah mengimpor wujud dan bentuk dari alam Jawa, berupa tata rupa dan tata bentuk Candi Bentar, kompleks percandian Trowulan Majapahit.

Baca juga: Antara Sawahlunto dan Kota Bogor
Lebih lanjut Rachmat memaparkan, urang Sunda sejatinya memiliki konsep budaya luhur menyangkut tata ruang, padumukan, leuit, imah, buruan atau pekarangan, alam lingkungan, tanaman dan toponim terkait morpologi padesan yang semuanya telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari urang Sunda.
“Saya sependapat dengan Putra Sungkawa bahwa desain bangunan yang rencananya akan berdiri itu akan melibatkan aspek yang bersifat kelangenan atau rekreasi, tentu tak sesuai dengan lokasi dan lingkungan atau kawasan yang sakral dan penuh makna seperti halnya Batutulis,” ungkapnya.
Menurut Rachmat, jika memang akan dibangun pusat Budaya Sunda, fungsi utama harus mengacu kepada kegiatan yang bersifat kebudayaan pula dan tidak campur aduk antara taman rekreasi dengan giat budaya.
Lanjut Rachmat, membangun Pusat Kebudayaan Bumi Ageung di kawasan pusaka Batutulis seyogianya menyelaraskan dengan keadaan lingkungan sekitarnya.
Karena menurutnya, kawasan tersebut memiliki topografi yg sangat strategis ke arah pandang Gunung Salak dan Sungai Cisadane. Ada lembah, tebing, bukit, situs-situs dr masa Pajajaran dan kolonial.
Baca juga: Gedung Kesenian Kamuning Gading Terbengkalai
Tak jauh dari Bumi Ageung Batutulis, hadir sebuah bangunan warisan Bung Karno, Hing Puri Bimasakti, yang dirancang oleh arsitek F. Silaban dann Sudarsono. Bangunan yg memiliki citra arsitektur tropis dengan bentuk atap limasan, pekarangan luas dan keteduhan pohon pohon rindang.merupakan unsur yang sangat mendukung Pusat Kebudayaan Sunda Pajajaran Bumi Ageung Batutulis.
Sependapat dengan para budayawan lainnya, Ahmad Fahir salah satu penggiat budaya Sunda mengatakan, sudah selayaknya upaya revitalisaai ex karaton Pajajaran mencerminkan spirit, cita rasa dan napas karuhun Sunda.
Namun Fahir menyayangkan, Pemkot Bogor kurang peka dalam menampilkan cita rasa Bogor. “Kujang saja sudah jelas sebagai icon bersejarah Bogor diganti jadi kijang,” sindirnya.












