Pemilihan design Imah Adat Sunda, selain menghadirkan nuasa sundanya, sekaligus menjaga warisan sebuah peradaban arsitektur bangunan yang saat ini nyaris dilupakan masyarakat.
Masyarakan Kota Bogor memiliki warisan dari peradaban yang unggul dalam ilmu arsitektur. Hal itu menjadi bukti serta identitas bangsa, rekam jejak masa lalu, sumber pilosofi, menjadi tempat perhelatan acara adat.
Kehadiran arsitektur bangunan yang sesuai pakem, akan mengingatkan masyarakat terhadap sejarah dan pepatah-pepatah luhur.
“Imah Adat menjadi pilihan terbaik dan tidak akan menimbulkan polemik. Tinggal pembuatan bangunannya saja diperkokoh, dengan bahan kayu yang bagus, sehingga bisa tahan sampai puluhan tahun bila perlu berdaya tahan ratusan tahun,” paparnya.
Para budayawan pun menilai seharusnya rencana pembangunan komplek Situs Batutulis itu, disesuaikan dengan literasi dan ketentuan yang ada.

Baca juga: Catatan Sejarah, Pelebaran Jembatan Otista Kedua Kalinya
Budayawan lainnya, yakni Raezal Pancako, Lufthi, Shinda dan Ki Maung sepakat bahwa rancang bangun yang dipaparkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, sama sekali tidak berbasis kultur kesundaan.
Menurut mereka, seyogyanya dalam merencanakan pembangunan komplek Situs Batutulis, dilakukan musyawarah dengan melibatkan ahli arkeologi, sejarawan dan tokoh serta aktifis budaya se Bogor Raya.
“Agar semuanya dapat berjalan sesuai ketentuan dan kultur di mana Situs Batutulis itu adalah peninggalan sejarah Kerajaan Sunda,” ungkapnya.
Baca juga: Bogor Tak Hanya Dibesarkan Sri Baduga Maharaja, Juga Peran Arsitek Karsten
Para budayawan menyampaikan jika Situs Batu Tulis, memiliki kesakralan serta menjadi bukti peninggalan sejarah Sunda. Sehingga jangan disatukan dengan bangunan- bangunan yang tidak sesuai keberadaannya dengan situs.
Pata budayawan meminta agar Pemkot tidak memaksakan kehendak, walau didasarkan pada niatan baik, namun jika tidak sesuai jangan dipaksakan.












