Renungan Momen Penting HJB ke 540
Sebuah renungan terkait momen penting HJB ke 540, lingkup wilayah Kota Bogor, tampaknya bebenah kota yang dilakukan Pemkot lebih di titik beratkan kepada kawasan pusat, pedestrian dan taman-taman kota.
Tengoklah kondisi pinggiran kota yang berbatasan dengan Kabupaten Bogor. Jalanan yang rusak dan drainase di pinggiran kota sungguh memprihatinkan. Aduan masyarakat melalui Aplikasi Si Badra hanya sebatas dijawab oleh seorang admin yang ditunjuk Pemkot Bogor. Sementara respon instansi terkaitnya sangat lambat.
Warga pinggiran kota hanya bisa mengelus dada melihat kondisi wilayahnya yang dinilainya kurang diperhatikan. Padahal Pembangunan kota adalah milik dan hak segenap warga kota dan tidak terpilah-pilah.
Ruh sebuah kota adalah kehidupan kebudayaannya. Sejauh manakah perhatian Pemerintah kepada kehidupan kebudayaan dan kepusakaan Kota Bogor sebagai Kota Pusaka ?

Adakah perhatian Pemkot kepada upaya meneliti, mengkaji dan menyusun buku sejarah Bogor ? Empat puluh tahun lalu, Pemkot Bogor saat Wali Kota Ahmad Sobana, 1979-1984, telah menerbitkan Buku Sejarah Bogor, karya Saleh Danasasmita, seorang PNS dan ahli Sejarah Sunda.
Hingga saat ini tak pernah lahir dan terbit buku terkait Sejarah Bogor. Sebagai Kota Pusaka, apakah Kota Bogor memiliki Tim Ahli Cagar Budaya yang pituin (asli) Bogor dan Tim Kota Pusaka.
Tak hanya di Kota Bogor, tetangganya Pemerintah Kabupaten Bogor pun berpacu membangun wilayahnya. Namun pembangunan hanya berfokus di pusat pemerintahan Kabupaten Bogor. Visi Kabupaten Bogor menjadi Kabupaten termaju di Indonesia hanya isapan jempol semata.












