Scroll untuk baca artikel
Ruang Cinta Pusaka

Antara Sawahlunto dan Kota Bogor

8039
×

Antara Sawahlunto dan Kota Bogor

Sebarkan artikel ini
sawahlunto
Sawahlunto Kota Berbudaya.

Dalam mengelola Sawahlunto, ia menerapkan gaya manager perusahaan. Investasi pemerintah daerah, seperti pembangunan water boom tadi, dihitung betul kapan balik modal dan mulai untung. Bedanya perusahaan mencari “profit” untuk pemilik saham, Sawahlunto mencari “benefit” untuk masyarakat.

Walhasil, di bawah sang manager, angka kemiskinan merosot tajam. Dari 17,18 persen pada 2005, tinggal 2,42 persen pada 2009, terendah kedua di Indonesia setelah Denpasar. Daerah itu pun kini dikenal sebagai kota wisata.

Seperti juga kata Bima, bahwa bukan pekerjaan yang gampang untuk menjaga dan mengelola kota tua atau Kota Pusaka, namun Kota Sawahlunto telah berhasil melakukan hal itu.

Sawahlunto yang berhasil ditetapkan sebagai Kota Warisan Dunia oleh UNESCO, tak segampang membalik telapak tangan. Keberhasilan ini tentu terkait dengan berbagai aspek di dalamnya. Kepedulian wali kota beserta jajarannya yang mampu mengelola aset dan artefak budaya tinggalan masa lalu.

Baca juga: Dampak Jalur Rel Kereta Api Ganda
kebun raya bogor
Kebun Raya Bogor.

Terkait dengan bangunan bersejarah tinggalan masa kolonial Belanda di Kota Sawahlonto, betapa piawainya sumber daya manusia dan budaya mereka dalam lingkup kepusakaan, budaya dan cagar budaya. Tampaknya mereka mampu memilih dan memilah bangunan-bangunan tua yang tak hanya menjadi bangunan fungsional serta tepat guna, namun bangunan yang beralih fungsi dan bermanfaat.

Pemerintah kota juga sangat menaruh perhatian kepada giat budaya dan sejarah. Mereka memanfaatkan serta memelihara jalur rel KA yang sudah tidak aktif lagi menjadi objek Wisata Sejarah. Jalur rel kereta api Padang-Sawahlunto itu dibangun tahun 1889-1894, sebuah cermin sejarah masa lalu yang tetap faktual melalui acara napak tilas pada area bekas kawasan pertambangan batu bara yang dibangun Hindia Belanda.

Hal lain yang perlu belajar dari Kota Sawahlunto adalah kehadiran Gedung Pusat Kebudayaan. Sementara Kota Bogor yang telah berusia lebih dari lima abad belum mempunyai Gedung Kebudayaan yang layak dan berwibawa. Gedung Pusat Kebudayaan itu adalah gedung tua yang dibangun tahun 1910, semula bernama “Gluck Auf”, memiliki luas sekitar 870 meter persegi. Di masa kolonial bangunan ini berfungsi sebagai gedung pertemuan (societeit), sarana para pejabat pemerintah kolonial pertambangan berkumpul untuk minum-minum dan menghibur diri.

Setelah direvitalisasi, gedung tua yang terpelihara dengan baik itu, pada 1 Desember 2006 bertepatan dengan hari jadi Kota Sawahlunto yang ke 118 tahun dijadikan sebagai Gedung Pusat Kebudayaan Kota Sawahlunto. Diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik dan didampingi oleh Wali Kota Sawahlunto Ir. H. Amran Nur.

Jangan lupa, Kota Bogor pun sebenarnya pernah memiliki Gedung Societeit yang terletak di lokasi Gedung Kamuning Gading. Bukan Gedung Balai Kota yang sekarang dan sering disebut-sebut oleh pejabat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor.

Baca juga: Kisah “Tangga Gendeng” di Jalan Rangga Gading Bogor Tengah

Sementara Gedung Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor hingga saat ini masih menempati bangunan cagar budaya, Gedung Nasional, karya Arsitek Friederich Silaban. Sebuah bangunan bersejarah rancangan arsitek yang membangun Masjid lstqlal, masjid terbesar di Asia Tenggara.  Kini dalam kondisi amat menyedihkan, kumuh dan tak terawat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *