Kisah “Tangga Gendeng” di Jalan Rangga Gading Bogor Tengah

Tangga Gendeng
Tangga di Rangga Gading pada proyek revitalisasi Jalan Suryakancana Kota Bogor. (Foto : Dok. Yaso)

BOGOR, Kobra Post Online – Inilah sebuah kisah yang aneh, unik dan menggelikan. Sebuah jalan dibuat berundak tanpa konsep dan pemikiran yang jelas. Tentu pengertiannya berlainan dengan tinggalan budaya prasejarah, punden berundak. Di Kota Bogor situs punden berundak hanya di Gang Wates, Jalan Gunung Batu.

Atas dasar apa harus merubah sebuah jalan di Kawasan Pusaka? Alih-alih melestarikannya, malah menjadi pedestrian dan kuliner? Tanya Anggota Konsil Kota Pusaka (KKP) Kota Bogor Rachmat Iskandar mengkritisi pembangunan tangga di Jalan Rangga Gading yang merupakan bagian dari revitalisasi Suryakancana Kota Bogor.

“Kalau boleh saya sebut, itu Jalan Tangga Gendeng karena benar-benar sebuah jalan yang bertangga. Terletak di Kawasan Pusaka Suryakancana. Kawasan Pusaka yang seyogianya dipelihara dan dilestarikan,” ungkap Rachmat.

Semula, katanya, dari nama nan indah yang bersumber dari seorang sosok sejarah masa klasik Bogor yaitu Rangga Gading. Namun atas nama pembangunan penataan kota maka jalan tersebut dilengkapi tangga-tangga.

Tentunya, menurut Rachmat sangat bertentangan baik dari aspek fisik fungsional maupun kultural. Fungsi fisik dari jalan itu terganggu karena telah mempersempit akses dan aktivitas masyarakat.

“Tak hanya itu, dilihat dari aspek kultural, jalan bertangga ini telah menghilangkan jejak sejarah Bogor. Aspek kultural yang dilindungi oleh Negara bernama Undang Undang Republik Indonesia No 11/2010,” tandasnya.

Lanjutnya, kisah Tangga Gendeng ini sepertinya akan berakhir ketika sekelompok warga yang berpikiran jernih menuntut pembongkaran jalan yang aneh, unik dan menggelikan itu agar kembali ke fungsi semula.