Dibandingkan antara masa kolonial dengan masa pemerintahan Republik lndonesia, tampak jelas nuansa Sejarah Bogor lebih beraneka ragam. Dalam hitungan waktu belum seabad dari tahun 1945 sampai kini tahun 2023, perubahan terjadi hanya dalam hitungan per lima tahun, mengikuti periode pergantian walikota.
Sebuah penelaahan perkembangan Sejarah Bogor dari awal tahun 1750, perancangan pesanggrahan Buitenzorg sampai Istana Buitenzorg sebagai kediaman resmi para Gubernur Jenderal VOC dan Hindia Belanda. Perkembangan Bogor di akhir masa Pemerintahan Hindia-Belanda tahun 1942. Masa pendudukan Jepang 1942-1945, sampai awal masa Pemerintahan Republik Indonesia tahun 1950. Awal berlaku nama gemeente Buitenzorg diganti menjadi nama Kota Besar Bogor oleh Presiden Republik Indonesia, Ir. Soekarno pada Januari 1950.
Tidak banyak sejarah Bogor menyangkut pendudukan Jepang yang singkat, sekitar tiga tahun. Namun pada masa Jepang semangat perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia tampak meningkat dan hal ini tercermin pada pembentukan laskar dan pasukan kerakyatan. Peranan Pembela Tanah Air atau PETA telah melahirkan pejuang-pejuang rakyat yang merupakan cikal bakal pasukan Tentara Nasional Indonesia. Di luar itu tak banyak catatan sejarah yang terkuak.
Awal masa kemerdekaan antara tahun 1945-1950-an, situasi di Kota Bogor mirip kota pensiunan. Bahkan sampai tahun enam puluhan pusat-pusat kota pun tampak masih lengang. Angkutan dalam kota dan angkutan antar kota juga terbatas, terminal masih menempati lahan sekitar Jalan Otto Iskandardinata, Pasar Bogor dan Kebun Raya.
Istana Bogor, yang pernah menjadi rumah dinas para Gubernur Jenderal itu, tahun-tahun 1950-1960 banyak dimanfaatkan untuk kegiatan kenegaraan. Dalam dunia pendidikan, penelitian dan kegiatan ilmiah lain tampak mulai menggeliat, ketika Universitas Indonesia melepaskan pendidikan tinggi MIPA dan Fakultas Kedokteran Hewan kepada perguruan tinggi yang berdiri di Bogor yang dikenal dengan nama Institut Pertanian Bogor atau IPB.

Baca juga: Bogor Tak Hanya Dibesarkan Sri Baduga Maharaja, Juga Peran Arsitek Karsten
Menuju era otonomi daerah tahun 1999, merupakan titik awal perkembangan ekonomi, sosial, kebudayaan dan kepariwisataan. Titik awal tercatat saat Achmad Sobana menjabat Walikodya Bogor menggantikan Kolonel Achmad Sham yang hampir 13 tahun menjabat Walikota. Pada masa Achmad Sobana tercatat peristiwa penting terkait dengan perkembangan perubahan tak hanya pada morfologi kota, namun juga kepada aspek sosio-ekonomi, bisnis, permukiman dan perumahan.
Sejak tahun 1995 Kotamadya Daerah Tingkat ll Bogor mengalami perluasan wilayah kedua, yang awalnya hanya 2.156 Ha menjadi 11.850 Ha. Perluasan wilayah Buitenzorg yang pertama tahun 1920 atas saran dari Ir. Thomas Karsten seorang planolog Belanda.
Dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, nama Kotamadya Daerah Tingkat ll Bogor diubah menjadi Kota Bogor.
Sejarah Kota Bogor kiwari tentu berbeda ketika masa kolonial dulu, namun yang patut menjadi catatan penting dan menjadi bahan pemikiran masa depan Kota Bogor, kita tetap harus melestarikan sejarah dan artefak budaya masa lalu. Bahan untuk pertimbangan dan perbandingan dengan situasi kondisi saat ini. Teknologi informasi dan era digilatisasi telah ada di tangan kita dan bukan lagi di depan mata kita. Kepusakaan di Kota Bogor tak hanya dalam bentuk fisik semata namun juga ada dalam digitalisasi.
Baca juga: Jannatul Baqi, Lokasi Pemakaman Islam Pertama dan Tertua
Melalui ide, yang selanjutnya kita gubah dalam bentuk pemikiran yang lebih konkrit selanjutnya tertuang dalam berbagai aspek, maksud, tujuan dan manfaat, salah satunya adalah pemikiran sejarah Bogor.
Akhirnya sejarah tentang Bogor harus lahir dari proses ini, dari idea dan pemikiran. Bukan atas dasar mitos dan dongeng-dongeng semata.












