Scroll untuk baca artikel
Ruang Cinta Pusaka

Renovasi Jembatan Otista Antara Rahmat dan Berkah

2358
×

Renovasi Jembatan Otista Antara Rahmat dan Berkah

Sebarkan artikel ini
Renovasi Jembatan Otista Antara Rahmat dan Berkah
Progres renovasi Jembatan Otista.

Jalan darurat yang didesain oleh susunan kantung pasir plastik yang amat bermanfaat itu kini tak hanya memberi rahmat. Ketika jalan itu mampu menolong pejalan kaki yang semula memutar ke dan dari Pasar Bogor. Rahmat lain adalah dengan pengumpulan uang kencreng dari masyarakat pengguna dengan disediakannya kantung plastik yang ditaruh di mulut jalan di dua titik arah berlawanan.

Sangat menarik, dan ini rahmat yang lain, di salah satu titik mulut jalan darurat itu juga ada penjaga yang menjajakan aneka makanan gorengan. Kita tidak perlu berpikir berapa besar uang kencreng yang terkumpul per harinya dan seberapa banyak gorengan yang dibeli oleh pengguna jalan, yang rata-rata dilewati antara sepuluh dan dua puluh orang itu.

Namun yang patut kita garis bawahi adalah sebuah kenyataan faktual bahwa semangat gotong royong dan kepedulian atas sesama yang tengah menghadapi kesulitan, lahir dari masyarakat papa. Lahir dari masyarakat dengan kondisi lingkungan dalam wilayah sebagai kantung-kantung miskin warga tepi kali. Mereka hidup pada sebuah rumah tinggal yang tak patut disebut sebagai rumah sehat, namun sudah termasuk ke dalam kategori rumah tinggal yang tak layak huni.

Renovasi Jembatan Otista Antara Rahmat dan Berkah
Inisiatif warga bangun jembatan dengan tumpukan karung selama renovasi Jembatan Otista.

Baca juga: Catatan Sejarah, Pelebaran Jembatan Otista Kedua Kalinya

Pemukiman semacam ini dengan lingkungan yang kumuh dan tidak sehat karena terletak di lahan bantaran sungai dengan topografi yang kadangkala curam. Tak cukup mendapat panas dan cahaya matahari masuk ke sebagian besar perumahan hampir semua kali di Kota Bogor. Pada bagian lain, angin segar dari luar, juga sulit menyejukkan dan menyehatkan ruangan, karena sulitnya membuat jendela akibat dinding antara satu rumah dengan rumah yang lain saling menempel.

Akhirnya, renovasi jembatan Otto Iskandar Dinata yang banyak mendapat kecaman dari berbagai pihak, terutama dari kalangan pemerhati kebudayaan dan cagar budaya itu, sejatinya mengundang semangat berbagi keperihatinan. Masyarakat setempat berupaya membuat jalur jalan darurat dengan memanfaatkan karung plastik diisi pasir dan tanah berjejer membentang di sungai Ciliwung.

Jalan darurat itu tak hanya mampu memperpendek jarak tempuh yang memutar tidak karuan, namun juga telah membuahkan rahmat kegotong royongan dan menciptakan lapangan kerja sederhana.

Di sisi lain ada upaya pengumpulan dana seiikhlasnya dari masyarakat pengguna jalan darurat tersebut. Lumayan setidak-tidaknya untuk mengisi kas RT atau RW setempat, meski hanya sesaat selama proyek renovasi jembatan berlangsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *