Scroll untuk baca artikel
Ruang Cinta Pusaka

Gonjang Ganjing Atraksi Glow Kebun Raya Bogor

8657
×

Gonjang Ganjing Atraksi Glow Kebun Raya Bogor

Sebarkan artikel ini
Glow
Glow Kebun Raya Bogor.

Ahli proteksi tanaman dari Fakultas Pertanian IPB, Dr. Dadan Hindayana, menyebut bahwa : manusia dengan hewan menangkap spectrum cahaya yang berbeda. Di mana “visible light”, yang dapat tertangkap oleh indera manusia berkisar 400-700 nanometer. Kita ketahui yang sangat berpengaruh nyata terhadap proses fotosintesis tumbuhan ada pada panjang gelombang 450-495 nanometer untuk warna biru dan 620-750 nanometer untuk warna merah. Menarik untuk dikaji jika menggunakan spectrum warna selain biru, misalnya hijau apakah akan mempengaruhi proses visiologi tumbuhan di malam hari. Manusia menangkap spectrum cahaya berbeda dengan hewan, terutama serangga.

Di sisi lain, Dr. R. Hendrian, Plt Direktur Kemitraan Riset dan Inovasi Nasional, yang juga mantan Kepala Kebun Raya Bogor, berkeyakinan bahwa aktivitas wisata glow tidak akan mengganggu ekosistem, konservasi dan kepentingan riset. Ia juga menjamin tidak ada  fungsi Kebun Raya Bogor mengalahkan fungsi lainnya.

Sebelum menelaah pandangan dan sikap pihak-pihak yang tidak setuju dengan kehadiran terselenggaranya atraksi Wisata Glow Kebun Raya Bogor, maka kita simak paparan Junaedi, Kepala Konservasi Mitra KRB sebagai berikut.

Program GLOW, hanya berlangsung di area tumbuhan yang memerlukan cahaya di malam hari, bukan di seluruh wilayah. Bahkan untuk deskripsi pohon bekerja sama dengan peneliti dan tentu tidak asal tulis. Selanjutnya menjelaskan bahwa Program Glow KRB, tidak berlangsung setiap hari, hanya pada akhir pekan saja. Pelaksanaannya pun tidak di semua tempat, hanya di lima rute, yaitu dari pintu masuk ke area Taman Pandan, Taman Meksiko, Taman Aquatik, Lorong Waktu di wilayah Jalan Kenari dan Taman Astrid.

Patut disimak juga penjelasan Direktur Sales dan Marketing PT MNR, Michael Bayu, bahwa kehadiran Wisata Edukasi Glow KRB tidak secara langsung muncul tanpa keikutsertaan Badan Riset dan Inovasi Nasional /BRIN.

Baca juga : Kawasan Suryakancana dan Warisan Tionghoa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *