Scroll untuk baca artikel
Info Bogor

Diskusi Publik Pitulasan #4, Dedie A. Rachim Beberkan Tagline Bogor Beres

57
×

Diskusi Publik Pitulasan #4, Dedie A. Rachim Beberkan Tagline Bogor Beres

Sebarkan artikel ini
Diskusi Publik Pitulasan #4, Dedie A. Rachim Beberkan Tagline Bogor Beres

BOGOR, Kobra Post Online – Komunitas pekerja seni Trotoar Kreatif kembali  menggelar Diskusi Publik Pitulasan #4 yang digelar di Taman Malelang Kelurahan Sukasari Kecamatan Bogor Timur Kota Bogor, Jumat (17/5).

Dalam diskusi yang dipandu moderator Eko Kimung menghadirkan pembicara mantan Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim,  pengamat politik dari Citra Institut Yusak Farhan, Budayawan Ki Agus Prana Mulya, serta pemerhati pendidikan dan juga seorang jurnalis senior Brahma Sunatha.

Diskusi Publik Pitulasan #4 ini mengusung tema antara identitas, perencanaan, dan lokal genius dalam kacamata Dedie A. Rachim. 

Pada kesempatan itu Dedie menegaskan, bahwa Pemerintah Kota Bogor tidak bisa memuaskan semua keinginan masyarakat dan mewujudkan mimpi dalam sekejap.

Tapi yang terpenting, kata Dedie, pemerintah memberikan harapan kepada semua orang agar mimpi-mimpinya itu bisa terwujud. Lalu bagaimana caranya?, kata Dedie.

Menurut Dedie, caranya harus dapat berkomunikasi dengan baik terhadap masyarakat, mau dalam suatu forum ataupun secara personal.

“Jadi itulah yang saya lakukan selama  5 tahun menjabat Wakil Wali Kota Bogor,” ucapnya.

Ia menuturkan, ketika dirinya menjabat wakil wali kota dihadapkan oleh persoalan-persoalan yang harus bisa diselesaikan.

Dedie memberikan contoh bahwa selama 10 tahun akses jalan R3 belum bisa dilalui  dan belum ada finalisasi karena persoalan administrasi. Kemudian Jalan Dewi Sartika selama 30 tahun dikuasai oleh lapak PKL (Pedagang Kaki Lima).

Lalu, sambungnya, selama 30 tahun Taman Topi dikuasai oleh swasta, 6 tahun persoalan Masjid Agung dan 24 tahun persoalan pasar teknik umum (TU), dan puluhan tahun persoalan jalan Inner Ring Road (R2).

“Jadi saya diwariskan kebijakan-kebijakan masa lalu. Tapi bagi saya bukan menjadi beban, namun bagaimana kita bisa mencari titik-titik persoalan dan solusinya. Bagaimana bisa membereskannya dan Alhamdulillah berhasil diselesaikan,” beber lelaki yang pernah bertugas 13 tahun di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Baca juga: Heboh Pentas Happening Art Susuci Diri dan Bumi di Sungai Ciliwung

Terkait dengan pembangunan Alun Alun Kota Bogor, Dedie mengaku dirinya pernah menerima surat tembusan dari PT Exotika pengelola Taman Topi yang meminta diperpanjang kontraknya.

“Saat itu saya bertanya ke BPKAD (Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah), berapa besar kontribusi Taman Topi kepada Pemerintah Kota Bogor. Ternyata, nilainya hanya Rp 40 juta pertahun. Jumlah itu sangat kecil sekali untuk pemerintah, sehingga akhirnya diputuskan dibangun alun-alun,” tuturnya.

Diskusi Publik Pitulasan #4, Dedie A. Rachim Beberkan Tagline Bogor Beres

Selain itu lanjut Dedie, persoalan Masjid Agung Bogor yang mangkrak selama 6 tahun. Persoalan ini kalau diusut ke ranah hukum mungkin Masjid Agung belum berdiri.

“Kita bisa saja bertindak galak menyeret kontraktornya ke ranah hukum, tapi Masjid Agung sampai 5 tahun pun tidak akan berdiri. Makanya yang datang bukan Polisi, namun solusinya mendatangkan  Komisi Keselamatan Konstruksi. Sekarang Masjid Agung sudah berdiri dengan megah dan bisa menampung 5.000 jamaah. Bisa dibayangkan kalau yang datangnya polisi, bangunan Masjid Agung mungkin hingga sekarang di police line,” ungkap Dedie.

Oleh karena itu, kata Dedie, tagline Bogor Beres yang diangkat karena beberapa persoalan di Kota Bogor yang sebelumnya belum tuntas sudah bisa dibereskan.

“Insya Allah ke depan persoalan-persoalan lainnya yang belum beres akan kita bereskan,” tegasnya.

Kritik Pembicara dan Aspirasi Warga

Diskusi publik Pitulasan #4 semakin hangat ketika para pembicara menyampaikan kritik, saran dan masukan kepada mantan Wakil Wali Kota Dedie A. Rachim yang akan maju dalam kontestasi Pilkada Kota Bogor 2024.

Jurnalis senior Brahma Sunatha menyatakan bahwa PKL menjadi persoalan klasik yang dihadapi setiap kepala daerah di Kota Bogor. Sudah ratusan miliar digelontorkan dari APBD untuk menertibkan dan menata PKL, tapi progresnya nihil. Sementara sektor lain seperti pendidikan dan kesehatan tidak tersentuh.

“Kenapa saya katakan tidak tersentuh, karena masih banyak masyarakat Kota Bogor yang mengeluh persoalan itu,” tutur lelaki yang akrab disapa Bram.

Sedangkan Budayawan, Ki Agus Prana Mulya mengatakan, Bogor perlu sentuhan budaya, baik dari pakaian, bahasa, kuliner, kesenian dan sebagainya.

“Jadi nilai-nilai kearifan lokal harus kita bangun kembali. Memang ini akan menjadi pertarungan nilai kearifan lokal dengan globalisasi,” ujar Agus.

Pengamat politik dari Citra Institut, Yusak Farhan menyampaikan apresiasi kepada Dedie A. Rachim yang bisa hadir dalam diskusi publik.

“Kehadiran Kang Dedie menunjukan komitmen yang kuat terhadap seni dan budaya Kota Bogor,” kata Yusak.

Kalau bicara Kota Bogor, lanjutnya, Bogor kaya akan seni dan budayanya sejak  jaman pra kolonial, era kolonial, sampai era modern sekarang. Makanya ketika tema diskusi publik yang mengangkat “Lokal Genius” sangat tepat dalam mengusung isu-isu kebudayaan dalam menghadapi gempuran budaya-budaya lain.

Diskusi publik ini semakin menarik ketika para peserta yang hadir seperti para pelaku seni, penggiat, pemerhati dan warga Sukasari diberikan kesempatan untuk bertanya dan menyampaikan harapan dan keinginannya untuk Kota Bogor ke depan.

Baca juga: Heboh, Happening Art Wajah Bangsaku di Acara Bedah Buku 17 Rahasia Bung Karno

Rachmat Iskandar salah satu penggiat Cagar Budaya mengaku prihatin karena sudah banyak orang yang melupakan sejarah, termasuk sejarah panjang Kota Bogor.

“Makanya saya berharap kepada Wali Kota Bogor mendatang agar dibuatkan buku atau dokumentasi digital tentang  sejarah Bogor dan tokoh-tokoh Bogor, sehingga warga Bogor tidak akan kehilangan sejarahnya,” harap Rachmat yang juga penulis rubrik Ruang Cinta Pusaka di Kobra Post Online.

Diskusi Publik Pitulasan #4, Dedie A. Rachim Beberkan Tagline Bogor Beres

Harapan lainnya disampaikan Ketua Paguyuban Masyarakat Mandiri Bogor (PMMB), Suma Wijaya yang menyampaikan usulan secara tertulis kepada Calon Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim tentang keinginan dibangunnya  fasilitas umum yang memadai di wilayah Sukasari.

Diskusi publik Pitulasan #4 semakin menarik ketika sebuah pentas Performance Art Jangkar Jiwa: Suara Rakyat, Amanat Keramat berkeliling Kampung untuk menyerap aspirasi masyarakat terkait keinginan dan harapan masyarakat Sukasari terhadap Wali Kota Bogor mendatang.

Pentas diperankan seniman Heri Cokro dari Jangkar Jiwa, Lanang Kosasih dari KPJ (Kelompok Penyanyi Jalanan) Bandung dan Tohir Kuli Kulo Ketua Trotoar Kreatif yang juga Ketua KPJ Merdeka Kota Bogor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *