Scroll untuk baca artikel
Ruang Cinta Pusaka

Tiga Presiden Wacanakan Pemindahan Ibu Kota Republik Indonesia

8549
×

Tiga Presiden Wacanakan Pemindahan Ibu Kota Republik Indonesia

Sebarkan artikel ini
Palangkaraya

Kenapa Soekarno memilih Palangkaraya, sebuah kota nun jauh di Kalimantan sebagai  ibukota baru pengganti  Jakarta dan kemudian tidak terlaksana.

Soekarno tak hanya mewacanakan pemindahan ibukota baru di Kota Palangkaraya. Namun ia juga mengunjungi kota tersebut dua kali. Kunjungan yang pertama pada 14-20 Juli 1957 dan 7-10 September 1959. Hasil kunjungan tersebut digunakan sebagai salah satu bahan pemikiran untuk membangun Palangkaraya pengganti Jakarta sebagai ibukota RI.

Embrio Kota Palangkaraya didesain dengan prinsip sumbu. Sumbu tersebut menjadi sumbu simbolik yang mungkin nenjadi kota besar sebagai sebuah pusat kota.

Definisi Konsep Sumbu Kota antara lain mengkoneksikan suatu obyek dengan obyek yang lain. Di dalam sumbu tersebut dirancang dengan memperhatikan keberadaan unsur bangunan, pepohonan, “street furniture” kota dan reklame yang tidak menghalangi sumbu.

Hal ini dimaksudkan agar koneksitas visual secara fisik dan simbolik yaitu secara imajiner terpelihara. Bila memperhatikan akhir koneksi imajiner Palangkaraya yang ke arah barat daya, Jakarta yang merupakan pusat Pemerintahan RI, politik, ekonomi, sosial budaya dan juga investasi, kini tak lagi melirik Kota Palangkaraya. Sebuah konsep pemindahan Ibu Kota pengganti Jakarta yang dirancang Bung Karno tahun 1957.  Hingga kini tapak-tapak dan ciri sebuah Ibu Kota baru masih ada dan kita saksikan di Kota Palangkaraya.

Baca juga : Indahnya Hutan Bekas Pertambangan PT. Holcim di Cibadak Sukabumi

Tak bisa disangkal bahwa koneksi imajiner antara Kota Palangkaraya dan Kota Jakarta yang disimbolkan dengan Lapangan Bundaran Besar dengan Lapangan Monumen Nasional. Rancangan keduanya melambangkan makna nasional untuk Lapangan Bundaran Besar dan secara internasional untuk Lapangan Monumen Nasional.

Dalam amanatnya saat Bung Karno meresmikan Kota Palangkaraya pada tanggal 17 Juli 1957, jadikanlah Kota Palangkaraya ini menjadi Kota Modal dan Model. Jangan membangun bangunan disepanjang tepi Sungai Kahayan dan lahan disepanjang tepi sungai tersebut hendaknya diperuntukkan bagi taman. Sehingga pada malam hari yang terlihat hanyalah kerlap-kerlip lampu indah. Pada saat orang melewati sungai tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *