Kita bisa saja menafsirkan yang sedikit agak macam-macam dari tampilan dua sosok kepala daerah itu. Tafsiran politis atau tafsiran pencitraan. Namun di luar tafsiran itu ada pesan mural yang disampaikan adalah karya seni yang nyata-nyata memiliki fungsi yang tak hanya indah dipandang mata, namun bisa menyisipkan maksud terkait politik. Tentu, juga memiliki fungsi relasi sosial yang menghubungkan antara sang pemimpin dan rakyat yang dipimpinnya.
Sangat jelas, dalam lingkup Kesenian, teristimewa Seni Lukis, mural tak hanya menghadirkan pesan pribadi dari sang seniman sebagai pelukis.
Seiring perkembangan sosio ekonomi, sosio kultural, sosio teknologi dan sosio politik, maka fungsi seni mural ikut terkena dampaknya. Namun,kehadiran mural telah mampu membangun interaksi saling keterkaitan antara alun-alun dan Masjid Agung. Dibandingkan dengan jika dinding kios utuh telanjang apa adanya, maka akan terasa terkotak-kotak antara ruang alun-alun, ruang Stasiun dan ruang Masjid Agung. Mural tampak telah memberi kesan dan nuansa, sebagai bagian dari ketiga wilayah kota tersebut.

Baca juga: HJB, Antara Pesta Rakyat dan Pejabat
Ada satu aspek lain yang memperkuat kehadiran mural, yaitu lafadz-lafadz Asmaul Husna, nama-nama ALLAH nan baik dan indah, tertera pada tonggak-tonggak yang dilapisi lempengan-lempengan batu andesit.
Tonggak tonggak itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan lokasi mural. Tak jauh dan hanya berjarak sekian meter dari sana tampak keindahan ornamen Masjid Agung seolah mengikat seluruh Kawasan Pusaka itu.
Di dalam kehidupan sehari-hari hakekat mural sejatinya menjadi cermin, bagaimana manusia berinteraksi atas sesamanya. Bagaimana manusia berinteraksi dengan alam dan dengan Sang Maha Pencipta. Hal ini bisa disimak di dalam kehidupan sehari-hari.












