Scroll untuk baca artikel
Ruang Cinta Pusaka

Gedung Kesenian Kamuning Gading Terbengkalai

5909
×

Gedung Kesenian Kamuning Gading Terbengkalai

Sebarkan artikel ini

Festival Jaipong di KRB

gedung kesenian
Gedung Kesenian Kota Bogor, Kamuning Gading.

BOGOR, Kobra Post OnlineGedung Kesenian Kamuning Gading Terbengkalai. Ternyata fungsi Kebun Raya Bogor (KRB) kini sudah bertambah lagi. Tak hanya untuk konser musik, juga untuk ajang festival tari jaipongan pada Minggu 24 Juli lalu.

Hal ini tampaknya mendapat restu dan respon dari Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor, Atep Budiman. Bahwa KRB kemudian menambah kiprahnya dengan penyelenggaraan acara-acara kesenian, tentu akan menambah beban bagi upaya pelestarian lingkungan dan kawasannya. Yang menjadi pertanyaan, apakah memang untuk mengembangkan seni dan budaya itu harus di KRB?

Apakah Disparbud tak punya rencana ke depan yang lebih jauh dan lebih baik untuk membangun Gedung Kesenian atau Balai Budaya yang representatif, yang dibanggakan serta mampu menyatukan visi dan misi para seniman juga budayawannya?

Festival Pasanggiri
Festival Pasanggiri di Kebun Raya Bogor.

Kita memang perlu menengok ke masa silam, kepada sejarah Kebun Raya ketika Treub berupaya dan berhasil menciptakan sebuah kebun raya yang menjadi pusat penelitian tanaman tropis termasyhur di dunia. Tapi fakta sejarah Kebun Raya itu tak perlu kemudian dijadikan alasan untuk dalih memajukan kebudayaan, yang dengan serta merta menyediakan sarana ruang dan lingkungan kawasannya untuk giat budaya.

Aneh sekali jika Kota Bogor, di usia yang ke 540 tahun itu masih belum memiliki sebuah Gedung Kebudayaan yang patut dibanggakan. Juga sebagai pemicu semangat sekaligus membangun harga diri sebuah kota pusaka yang memiliki sejarah panjang katanya. Mimpi keinginan untuk mewujudkan sebuah Gedung Kesenian seyogianya muncul dari Disparbud Kota Bogor.

Gedung Kesenian Kota Bogor

Saat ini yang namanya Gedung Kesenian Kota Bogor adalah sebuah bangunan cagar budaya berlantai tiga bernama Kamuning Gading. Bangunan karya Arsitek Friedrich Silaban tahun 1960 itu pernah menjadi Gedung Front Nasional dan teater.

Kini sebagian dari bangunan itu tidak terpelihara, terutama ruang-ruang di lantai 3 dan bagian atap yang rusak parah.

Lantai 2 adalah peruntukkan ajang dan giat budaya alias Gedung Kesenian, yang juga kurang pemeliharaan serta perawatan.

Jauh dari kesan sebagai sebuah Gedung Kesenian Kota Bogor. Kondisi interiornya sangat merana, panggung pertunjukan, sistem penataan kursi, akustik, ventilasi, langit-langit, bahan lantai dan dinding tak dirancang sebagai sebuah Gedung Kesenian.

Nah, dari pada mengharap dan menanti uluran tangan pengelola Kebun Raya dan nebeng kebesaran namanya dalam upaya melestarikan seni-budaya di Kota Bogor, lebih baik mulailah berpikir merancang sebuah Gedung Kesenian.

Gedung Kesenian yang tak hanya menampilkan kekayaan, keragaman dan olah seni di Kota Bogor, sekaligus menjadi pusat kegiatan gotrasawala menyangkut pemikiran seputar kebudayaan.

Di Gedung Kesenian itu pula digelar kajian budaya menyangkut sejarah, filsafat, bedah penelitian, bedah buku dan temu sosok budayawan dan warga masyarakat.

Baca juga: Gonjang Ganjing Atraksi Glow Kebun Raya Bogor

Saya ragu, apakah orang Bogor mengenal sejarah kehadiran sosok budaya dan karya-karya pemikirannya? Apakah mereka mengenal bujangga/ sastrawan M.A. Salmun, budayawan Saleh 

Danasasmita, arkeolog Mundardjito dan Uka Tjandrasasmita, pelukis wayang R.A. Kosasih, pelukis Ernst Dezzentje.

Kemudian, ahli bahasa dan penterjemah Ali Audah dan seabreg budayawan serta sosok-sosok rancage lain yang masih terkubur dalam labirin ketidak kenalan dan ketidak tahuan sebagian besar masyarakat Kota Bogor.

Akhirnya mari kita merenung, kehadiran sebuah Gedung Kesenian sama pentingnya dengan kehadiran Gedung Dewan Kerajinan Nasional Daerah, City Gallerry dan Penataan Kawasan Pusaka Suryakancana. Ruh di dalamnya adalah eksistensi kebudayaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *