Menurut Deden, perubahan paradigma masyarakat mengenai sampah perlu dilakukan secara berkelanjutan. Edukasi kepada masyarakat dalam menyelesaikan masalah sampah dari sumbernya perlu terus didorong.
“Keberadaan Bank sampah merupakan modal sosial dalam pengelola sampah berbasis masyarakat,” ungkap Deden kepada Kobra Post Online.

Baca juga: Deden Ruhiyat Siapkan Jurus Untuk Mensejahterakan Desa Ciomas Rahayu
Sementara Itu, Direktur Bank Sampah Markas Beo 2, Muh. Nurdin mengatakan, walaupun jumlah nasabahnya pasang surut, namun keberadaan Bank Sampah Markas Beo Dua tetap eksis.
“Saat ini jumlah nasabah sampah yang aktif sekitar 70 Kepala Keluarga (KK),” terangnya.
Modelnya sambung Nurdin, sampah diinfaqkan dimana peruntukkannya untuk kegiatan sosial. Hasil penjualan sampah digunakan untuk membantu operasional TPA (Taman Pendidikan Al Quran), untuk perbaikan jalan di area komplek perumahan, dan kegiatan sosial lainnya.












