Kendati peran orang tua dalam projek P5 ini adalah mengikuti sosialisasi, memantau program, dan membantu melaksanakan program. Sehingga dalam projek ini adanya kolaborasi.
“Kita kolaborasikan karena seluruh kelas VII kita siapkan untuk berkolaborasi, dalam merancang program ini. Dan hasil dari seluruh rangkaian program selama tiga minggu ini kita curahkan pada panen karya ini,” bebernya.
“Ada pertunjukan dan ada pameran hasil karya produk dari P5 ini. Diantaranya ada stiker, poster tentang anti bullying, dan ada repleksi. Repleksi itu adalah evaluasi kegiatan dari seluruh warga sekolah, serta pengunjung,” sambungnya.

Baca juga: Antusias Siswa SMPN 1 Rancabungur Ikuti Lomba HUT RI
Sementara itu di tempat yang sama, Ketua Panitia Pelaksana, Dede Darmawan mengatakan, SMPN 1 Rancabungur melaksanakan projek pertama. Pada panen karya ini, siswa kelas VII menampilkan kreativitasnya dengan menerapkan anti bullying.
“Dibagi menjadi lima kelompok dan memiliki yel-yel semuanya. Setelah itu ada penampilan-penampilan kreativitas siswa, diantaranya kelompok satu menampilkan drama, kelompok dua tentang vokal dan puisi, kelompok tiga menampilkan senam, kelompok empat menampilkan vokal tradisional, serta kelompok lima tari tradisional,” bebernya.
Menurut Dede, program P5 ini akan tetap dilanjutkan, dalam satu semester minimal dua kali dilaksanakan. Dalam projek ini diikuti kurang lebih 500 siswa kelas VII dengan dibagi-bagi tugas.
“Ada yang bagian yel-yel, penampilan kreativitas, penjaga stand dan yang lainnya. Intinya semua siswa harus terlibat,” tuturnya.
Baca juga: SMPN 1 Rancabungur Buka PPDB 2023
Ia berharap dalam program P5 ini siswa dapat membekali diri untuk menjadi manusia-manusia yang sesuai dengan Pancasila.
“Sesuai dengan temanya, kita menghindari perundungan atau bullying terutama di sekolah,” pungkasnya.












