JAKARTA, Kobra Post Online – Pembelajaran tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Hal tersebut dibuktikan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) STKIP Kusuma Negara Jakarta melalui kegiatan Pancasila Inklusif Educamp: Belajar, Bermain, dan Berempati yang digelar di kawasan Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur.
Kegiatan yang menjadi bagian dari mata kuliah Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus dengan dosen pengampu Dr. Fitriyani, M.Pd. ini menghadirkan pengalaman belajar kontekstual yang memadukan sejarah, pendidikan karakter, serta konsep pendidikan inklusif. Salah satu kelompok yang berpartisipasi aktif adalah Kelompok 2 (UUD 1945) yang mengangkat tema implementasi nilai-nilai konstitusi dalam pembelajaran inklusif.
Pembelajaran Konstitusi yang Lebih Bermakna
Dalam kegiatan Educamp, mahasiswa tidak hanya mempelajari sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 melalui berbagai aktivitas edukatif, permainan, observasi situs sejarah, hingga simulasi pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus (ABK).
Melalui pendekatan learning by doing, peserta diajak memahami bahwa amanat UUD 1945 tentang hak memperoleh pendidikan yang layak harus diwujudkan melalui sistem pendidikan yang inklusif, adil, dan menghargai keberagaman.
Kegiatan berlangsung di sejumlah titik penting kawasan Monumen Pancasila Sakti, seperti area Sumur Lubang Buaya, diorama sejarah, serta Monumen Pahlawan Revolusi yang menjadi media pembelajaran langsung bagi peserta.

Baca juga: Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Pamulang Berikan Solusi Digital untuk Pengelolaan Tabungan Sekolah di SDN Balungbang Jaya 3
Pendidikan Inklusif Wujud Nyata Amanat UUD 1945
Kelompok 2 menilai bahwa pendidikan inklusif merupakan implementasi nyata dari amanat konstitusi, khususnya dalam menjamin hak setiap warga negara memperoleh pendidikan tanpa diskriminasi.
Melalui berbagai simulasi pembelajaran, mahasiswa berlatih menjadi fasilitator yang mampu memberikan layanan sesuai kebutuhan peserta didik dengan berbagai karakteristik, termasuk anak berkebutuhan khusus.
Pendekatan yang digunakan mengacu pada prinsip Universal Design for Learning (UDL), yaitu menyediakan berbagai cara belajar agar seluruh peserta dapat mengikuti proses pembelajaran secara optimal.
Dalam praktiknya, mahasiswa menggunakan media visual, instruksi sederhana, pendampingan individual, serta aktivitas kolaboratif sehingga seluruh peserta dapat berpartisipasi secara aktif.
Menumbuhkan Empati dan Karakter Kebangsaan
Kegiatan Educamp juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan nilai-nilai persatuan, gotong royong, toleransi, kepedulian sosial, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Melalui simulasi dan role play, mahasiswa merasakan langsung bagaimana pentingnya memberikan pelayanan pendidikan yang ramah, adil, dan menghargai setiap perbedaan.

Baca juga: Mahasiswa IPB University Terapkan Metode Ikigai dan CBT Untuk Tingkatkan Kepercayaan Diri Remaja Panti Asuhan
Pengalaman tersebut memperkuat pemahaman bahwa keberagaman bukan menjadi hambatan dalam proses belajar, melainkan kekuatan yang mampu memperkaya pengalaman pendidikan.
Selain memperdalam pemahaman mengenai UUD 1945, kegiatan ini juga mendukung pembentukan Profil Pelajar Pancasila, yakni peserta didik yang beriman, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.
Bekal Calon Guru Masa Depan
Bagi mahasiswa PGSD, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga yang tidak dapat diperoleh hanya melalui pembelajaran teori di kelas.
Melalui pengalaman langsung di lapangan, mahasiswa belajar membangun empati, meningkatkan kreativitas dalam menyusun pembelajaran, serta mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan peserta didik yang memiliki kebutuhan belajar berbeda.
Kelompok 2 menyimpulkan bahwa pembelajaran berbasis situs sejarah mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih konkret, emosional, dan bermakna sehingga nilai-nilai konstitusi tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Ke depan, model pembelajaran seperti Pancasila Inklusif Educamp diharapkan dapat menjadi salah satu inovasi pendidikan karakter yang mampu melahirkan calon pendidik profesional, humanis, serta berkomitmen mewujudkan pendidikan yang inklusif sesuai amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Tim Penulis (Kelompok 2 – UUD 1945)
1. Tasya Nur Destiani
2. Adinda Helmia Fatimah
3. Athifah Rifqoh Muhassanah
4. Khansa Nazhifah
5. Maulia Putri
6. Afiffah Nada Nadhiffah
7. Siti Yupi Awaliah
8. Puja Nur Qona’ah
9. Sifa Nurul Azmi
10. Fitri Damayanti
11. Nur Sainah
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)STKIP Kusuma Negara JakartaTahun 2026











