BOGOR, Kobra Post Online – Kepala SMPN 1 Rancabungur, Siti Khadijah, menegaskan bahwa kegiatan Education Training Plus (ETP) untuk siswa kelas VII dan VIII dengan tujuan Bandung yang dijadwalkan pada 25 Mei 2026 resmi dibatalkan.
Keputusan tersebut diambil menyusul munculnya kegaduhan dan berbagai informasi yang beredar di media sosial terkait kegiatan ETP di lingkungan sekolah.
“Kegiatan ETP sudah dibatalkan. Tidak ada kejadian-kejadian seperti yang dirumorkan dan dibesar-besarkan. Semua yang disampaikan kepada siswa saat itu murni edukasi,” ujar Siti Khadijah.
Ia menjelaskan, pembicaraan kepada siswa saat itu berkaitan dengan kegiatan ETP dan penekanan terhadap kebersihan lingkungan sekolah. Menurutnya, SMPN 1 Rancabungur menerapkan program “zero sampah”, sehingga siswa dibiasakan menjaga kebersihan sekolah secara disiplin.
“Kondisi saat itu sampah sedang banyak, jadi kami meminta anak-anak membersihkan lingkungan sekolah sebelum pulang. Tidak ada kekerasan, tidak ada gebrak-gebrak seperti rumor yang beredar,” katanya.
Baca juga: SPMB 2025, SMPN 1 Rancabungur Sediakan 11 Rombel
Siti Khadijah juga menegaskan bahwa kegiatan ETP sejak awal tidak bersifat wajib. Siswa yang tidak mengikuti kegiatan tersebut dipastikan tidak menerima sanksi apapun.
“Tidak ada sanksi tidak naik kelas, tidak ada pengurangan nilai, dan tidak ada hukuman. Di sekolah kami lebih mengedepankan edukasi dan pembinaan karakter,” tegasnya.
Ia mencontohkan, apabila ada siswa yang terlambat datang ke sekolah, maka pendekatan yang dilakukan berupa pembinaan positif seperti salat dhuha, literasi, hafalan surat pendek, hingga olahraga sesuai minat siswa.
Menurutnya, program literasi di sekolah bertujuan membangun rasa percaya diri dan kemampuan komunikasi siswa, baik dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris, maupun bahasa daerah.
“Anak-anak dilatih untuk mampu berpidato, tampil percaya diri, dan berkomunikasi dengan baik. Itu sudah menjadi rutinitas literasi di sekolah kami,” jelasnya.
Baca juga: Memantik Kesadaran pada Lingkungan, SMPN 1 Rancabungur Gelar Karya P5
Terkait siswa yang tidak mengikuti ETP, pihak sekolah menyebut mereka tetap diberikan tugas pembelajaran dan kegiatan literasi seperti biasa, bukan hukuman ataupun tekanan.
“Kalau ada teman-temannya berangkat, yang tidak ikut tetap belajar seperti biasa. Jadi bukan hukuman, melainkan bagian dari pembelajaran dan literasi,” tambahnya.
Siti Khadijah memastikan seluruh dana yang telah dibayarkan orang tua murid kini sedang dikembalikan sepenuhnya.
“Keuangan sudah dikembalikan kepada orang tua semuanya karena memang peserta yang ikut hanya sedikit,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Komite SMPN 1 Rancabungur, Aang Syahbana, menambahkan bahwa keputusan pembatalan diambil demi menjaga kondusivitas dan merespons aspirasi orang tua murid.
“Kami mengambil kebijakan karena tuntutan juga dari orang tua dan adanya kegaduhan ini. Maka kegiatan ETP untuk kelas VII dan VIII resmi kami batalkan,” ujarnya.
Baca juga: Bupati Bogor Kawal Mega Proyek Akademi Olahraga Nasional di Rancabungur, Digadang Jadi Sports Center Terbesar di Dunia
Aang menjelaskan, program ETP sebenarnya telah disosialisasikan sejak penerimaan siswa baru tahun 2025. Saat itu pihak sekolah dan komite memaparkan program-program sekolah kepada seluruh orang tua siswa, termasuk rencana kegiatan outing class atau ETP.
Menurutnya, pada Maret 2026 informasi terkait jadwal pelaksanaan ETP mulai disampaikan kembali melalui wali kelas, termasuk rencana keberangkatan pada 25 Mei 2026.
“Kalau memang ada keberatan, kami selalu terbuka untuk komunikasi. Komite ini menjadi jembatan antara orang tua siswa dengan sekolah,” katanya.
Ia juga menyebut tidak ada orang tua yang menyampaikan keberatan secara langsung kepada pihak komite maupun sekolah selama proses sosialisasi berlangsung.
Baca juga: SMPN 1 Rancabungur Bentuk Akhlak Siswa Lewat Sanlat
Selain itu, Aang membantah berbagai informasi yang beredar di media sosial terkait dugaan tekanan ataupun tindakan tertentu kepada siswa.
“Berita yang berkembang di media sosial itu tidak semuanya benar. Ada hal-hal yang tidak seperti yang diberitakan,” tegasnya.
Pihak sekolah dan komite berharap masyarakat tidak mudah terpengaruh isu yang belum terverifikasi serta mengedepankan komunikasi apabila terdapat persoalan di lingkungan pendidikan.












