Karier Nani tak hanya didukung oleh perjuangan masa revolusi, namun juga oleh sosok kepribadiannya yang tegas, disiplin dan ulet serta sangat dekat dengan saudara-saudaranya. Nani Kamarwan menguasai berbagai bahasa asing, antara lain bahasa Belanda dan Inggris. Itulah sebabnya, semasa hidupnya Nani memiliki pengalaman kerja yang beraneka ragam. Mengurus museum Perjuangan Bogor, sebagai sekretaris di Bank Indonesia, mengelola Guest House Good Year, berkiprah di SOKSI Golkar Kota Bogor dan pengurus beberapa pondok pesantren dan yatim piatu.
Baca juga : Tiga Presiden Wacanakan Pemindahan Ibu Kota Republik Indonesia
Di usia yang tidak muda lagi, Nani tercatat sebagai anggota Veteran Kota Bogor. Bahkan, dari tahun 1995 sampai tutup usia pada 9 September 2012 tercatat sebagai bendahara Dewan Harian Cabang 45. Sebuah kenangan yang tak akan terlupakan, jika ada becak masuk ke halaman Balaikota, maka itu pertanda kedatangan sang pengurus DHC 45, Ibu Hj. Nani Rochbani Soeyanto Kamarwan.
Pejuang dan perintis kemerdekaan itu kini telah terbaring tenang di pemakaman umum Blender di Jalan Kebon Pedes. Bukan di Taman Makam Pahlawan Dreded. Rumahnya di Jalan Menteng nomor 34 yang konon dirancang oleh arsitek F. Silaban itu kini ditempati anaknya yang bungsu yaitu Arie Hakim Kamarwan, sementara puteri sulung menempati apartemen di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan.
Sejauh ini adakah kepedulian Pemerintah Kota Bogor terhadap warga-warga tebaiknya yang telah menorehkan tinta emas di Bumi Pajajaran?
Penulis : Rachmat Iskandar






