Pada kurun tahun 1960-1980, Ali banyak disibukkan oleh kegiatan lain di luar menulis. Antara lain tahun 1971, ia diangkat sebagai Dosen Humaniora di Institut Pertanian Bogor. Di IPB, Ali mengajar selama 20 tahun, sampai mengajukan permohonan berhenti, karena sebagai dosen luar biasa tidak bisa pensiun.
Pada tahun yang sama ia didapuk memjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta , yang dijabatnya hingga 10 tahun. Pada tahun 1971 ini Ali terlibat mendirikan Universitas Ibnu Khaldun, Bogor, dan menjadi Asisten Rektor di sana. Sebuah jabatan di lingkungan Perguruan Tinggi yang dipandang sangat bergengsi.

Baca juga: 2 Jembatan di Bubulak, Pangaduan dan Martadinata
Tahun 1974, Ali diangkat secara aklamasi menjadi Ketua Himpunan Penerjemah Indonesia. Ia sempat menjabat dalam dua periode.
Di antara kurun itu juga, tepatnya pada tahun 1961, Ali ditawari bekerja di kantor penerbit Tintamas, Jakarta. Semula bekerja sebagai asisten, akhirnya menjadi direktur penerbit tersebut. Tintamas mencetak buku impor macam-macam negara. Ada yang dari Inggris, Libanon, Pakistan dan beberapa negeri lainnya. Sekitar 20 tahun ia bekerja, ketika menjabat direktur itulah waktunya tersita untuk menulis. Akhirnya ia keluar dsri Tintamas dan kembali menulis.
Ali mulai memasuki dunia penerjemahan tahun 1951. Semula ia menggemari sastra Barat, diantaranya karya pegarang dari negara negara Eropa, seperti Victor Hugo, Guy de Maupassant, Oscar Wilde, dan Johan van Goethe. Ia juga banyak menerjemahkan sastra Rusia, antara lain karya sastrawan Anton Chechov, Maxim Gorky, Nikolai Gogol, dan Ivan Turgenev.
Karya terjemahan pertamanya adalah sebuah kumpulan cerita pendek berjudul Suasana Bergema, karya Hamid G, as Sahar, terbit pada 1957, diterbitkan Balai Pustaka, kemudian novel, Jalan Terbuka, tahun 1971.






