Di beberapa bagian dari dinding bunker terdapat lubang-lubang pengintai berbentuk empat persegi panjang dengan dimensi 15×30 cm. Lubang-lubang intai itu tampak didesain sedemikian rupa sehingga si pengintai bisa memanfaatkan arah pandang dan jarak pandang terhadap obyek sasaran pandangnya.
Baca juga: Taman Sriwedari Atau Situs Jami Paciing
Dimensi lubang masuk yang pas untuk pengguna Bunker juga berbeda, disesuaikan ketinggiannya. Untuk Bunker dengan ketinggian satu meter, lubang Bunker langsung dari permukaan tanah dari posisi Bunker tersebut. Sedangkan Bunker dengan ketinggian 180 cm lubang masuk sekitar 70-80 cm dari permukaan tanah.
Berdasarkan tinjauan di lapangan ketinggian Bunker dirancang untuk pemakaian sesaat lebih tepat sebuah sarana untuk mengintai posisi musuh yang datang. Jika terjadi kontak senjata, ketebalan dinding beton Bunker tak akan mampu menembusnya.
Dari kajian di lapangan, tata letak dan posisi Bunker itu tampak dirancang dengan memperhatikan kondisi lingkungan sekitarnya. Semua posisi Bunker menempati ketinggian lahan yang cermat dan strategis.
Selain di lahan perbukitan seperti Bunker di lahan Resto-Cafe Gumati dan PT Bank Mandiri, posisi ini sangat ideal saat menangkap kemunculan obyek yang diintai. Begitu pula dengan posisi Bunker di lahan PT KAI dan milik Abdurrahman Said Bajenet, sangat ideal karena pengintai menangkap tepat sasaran pada obyek yang diintainya.
Penemuan Bunker dalam jumlah yang relatif banyak yaitu sekitar sepuluh buah, tak hanya nenambah perbendaharaan benda cagar budaya di Kota Bogor, juga akan membuka sejarah masa Kolonial Belanda berikut tinggalan-tinggalannya yang bermanfaat bagi perkembangan kebudayaan di Kota Bogor.
Kita tidak hanya melihat dari sisi buruk semata, Belanda yang telah menjajah kita. Namun tidak bisa dipungkiri penjelajah, sejarahwan, arsitek dan ilmuwan Belanda juga turut membuka cakrawala perkembangan Sejarah Bogor.
Dari masa Pra Pajajaran, masa Kolonial sampai pasca kemerdekaan. Tercatat misalnya, Abraham van Riebeeck dan Tim Ekpedisi yang meninjau kawasan Pakuan Pajajaran, Johannes Rach, C. M. Pleyte, K. F. Holle dan yang lainnya. Semuanya telah memberi dan membuka jalan bagi pencerahan sejarah Bogor ke depan.






