Scroll untuk baca artikel
Info Bogor

Fenomena Gunung Es, Kasus HIV di Kota Bogor Tembus 6.058 Kasus

4988
×

Fenomena Gunung Es, Kasus HIV di Kota Bogor Tembus 6.058 Kasus

Sebarkan artikel ini
kasus
Ilustrasi HIV/AIDS.

Pada kesempatan itu, Dedie mengingatkan, pentingnya edukasi terhadap anak-anak dan remaja tentang bahaya HIV/Aids.

“Ini menyangkut kepada kualitas sumber daya manusia kita, kalau kemudian kita tidak melakukan upaya-upaya pencegahan dan kemudian pendeteksian dini, maka kita akan kecolongan,” tegas Dedie.

Pengawasan kepada anak-anak, khususnya remaja harus lebih digencarkan. Dedie mengatakan, remaja ini memiliki tingkat risiko yang tinggi terpapar HIV/Aids yang cukup tinggi. Dari potensi pergaulan, aktivitas diluar rumah, hingga pergaulan seksual yang membahayakan.

“Anak-anak ini adalah calon generasi emas Indonesia mendatang. Harusnya mereka adalah salah satu calon pemimpin – pemimpin bangsa,” ucap Dedie.

Baca juga: Pemkot Bogor Ajak Kemendikbud Ristek Menata Kawasan Batutulis

Keinginan untuk menjadikan tahun 2030 zero HIV/Aids harus terwujud. Upaya untuk terus menurunkan risiko paparan HIV yang lebih luas juga harus terus dilakukan. Dan kemudian kolaborasi untuk menumbuhkan sumber daya manusia yang unggul.

“Fenomena gunung es ini harus semakin diperkecil, jangan sampai di bawah tidak terdeteksi akhirnya menggelembung tambah banyak. Apa yang menjadi langkah kita mudah-mudahan memberikan hasil manfaat di masa depan,” tambahnya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Sri Nowo Retno menerangkan, dibandingkan pada tahun sebelumnya, kasus HIV mengalami peningkatan. Terutama pada populasi kunci Laki Seks Laki (LSL) sebesar 98 kasus HIV, transgender sebesar 3 kasus HIV, pengguna narkoba suntik (Penasun) 2 kasus HIV, Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) sebesar 3 kasus HIV, ibu hamil sebesar 12 kasus HIV, dan pasien TB sebesar 112 kasus HIV.

Pengendalian HIV dalam mencapai 95.95.95 yaitu 95 persen orang dengan HIV mengetahui status terinfeksi HIV, 95 persen orang dengan HIV minum obat ARV, dan 95 persen pemeriksaan Viral Load (VL) tersupresi masih alami banyak kendala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *