Scroll untuk baca artikel
Info Bogor

Fenomena Gunung Es, Kasus HIV di Kota Bogor Tembus 6.058 Kasus

5016
×

Fenomena Gunung Es, Kasus HIV di Kota Bogor Tembus 6.058 Kasus

Sebarkan artikel ini
kasus
Ilustrasi HIV/AIDS.

Hal ini karena upaya pencegahan yang belum optimal, retensi pengobatan ARV yang rendah, masih dirasakannya ketidaksetaraan dalam layanan HIV, khususnya pada perempuan, anak dan remaja serta masih dirasakannya stigma dan diskriminasi.

Hari AIDS sedunia (HAS) diperingati pada 1 Desember sejalan dengan tema Global “Equalize”, yaitu satukan langkah, cegah HIV, dan semua setara akhiri AIDS. Tujuan Peringatan Hari AIDS Sedunia dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, masyarakat. Khususnya perempuan dan remaja dalam pencegahan dan pengendalian HIV.

“Menggerakkan perempuan dan remaja untuk secara aktif berupaya mencegah infeksi dan penularan HIV AIDS bagi diri dan lingkungannya. Meningkatkan keberpihakan dan kesetaraan dalam menyediakan layanan pencegahan, tes, dan pengobatan HIV AIDS berkualitas untuk semua orang. Serta meningkatkan penggerakan sumber daya dalam mengakhiri AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat di Indonesia,” paparnya.

Baca juga: Siaga Bencana, Komisi IV DPRD Ingatkan Pemkot Bogor Ikuti Amanat Perda

Dalam peringatan Hari Aids Sedunia tahun 2022 tingkat Kota Bogor, hadir puluhan peserta yang terdiri dari tim Dinas Kesehatan Kota Bogor, OPD terkait, Camat se-Kota Bogor, Puskesmas se-Kota Bogor, rumah sakit layanan PDP, Lapas Paledang, KPA Kota Bogor, komunitas dan CSR.

Kegiatan ini meliputi kilas balik dan dramatical tentang kegiatan HIV yang sudah dilakukan di tahun 2022 yang terdiri dari konseling, mobile VCT, skrining, pertemuan kader WPA, dan penguatan program HIV, penggalangan komitmen, pemberian santunan bagi anak dengan HIV/AIDS (ADHA) dan talkshow tentang satukan langkah, cegah HIV dan semua setara akhiri AIDS dari sudut pandang stakeholder dan komunitas.

“Untuk mencapai ending AIDS tahun 2030, upaya pengendalian dilakukan dengan strategi, pencegahan, penemuan kasus dan penanganan kasus didukung dengan berjalannya transformasi kesehatan. Termasuk penguatan layanan primer, pencakupan kesehatan semesta dan pelibatan masyarakat atau komunitas,” katanya.

Sehingga, kata Retno, perlu dukungan dari semua pihak dan masyarakat untuk berperan aktif dalam mengakhiri epidemi AIDS dengan melibatkan semua pemangku kepentingan, yang terdiri dari oleh pemerintah, akademisi/praktisi, masyarakat, swasta, media dan komunitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *