BOGOR, Kobra Post Online – Isu Pecah Kongsi Dedie Rachim-Jenal Mutaqin mulai menjadi perbincangan publik setelah Lembaga Survei Visi Nusantara (LS Vinus) merilis hasil survei kepuasan kinerja kepala daerah di Kota Bogor periode Februari 2026.
Lembaga Survei Visi Nusantara (LS Vinus) mengungkap adanya gejala “pecah kongsi” dalam setahun kepemimpinan Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim dan Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin.
Founder LS Vinus, Yusfitriadi, menyampaikan indikasi tersebut berdasarkan hasil survei kinerja kepala daerah yang dilakukan pada 10–15 Februari 2026 terhadap 800 responden di Kota Bogor melalui wawancara langsung.
Hasilnya menunjukkan adanya selisih tingkat kepuasan publik yang cukup mencolok.
- Tingkat kepuasan terhadap Dedie A. Rachim: 46,75 persen
- Tingkat kepuasan terhadap Jenal Mutaqin: 51,75 persen
Perbedaan ini dinilai menjadi salah satu indikator munculnya persepsi publik terkait disharmoni di pucuk kepemimpinan.
Isu Pecah Kongsi Dedie Rachim Jenal Mutaqin semakin ramai diperbincangkan setelah hasil survei menunjukkan adanya perbedaan tingkat kepuasan publik yang cukup signifikan di Kota Bogor.
Pecah Kongsi Dedie Rachim-Jenal Mutaqin dan Data Survei LS Vinus

Pengamat politik menilai isu Pecah Kongsi Dedie Rachim-Jenal Mutaqin bisa berdampak jangka panjang apabila tidak segera dikelola secara komunikasi politik yang baik. Dalam dinamika pemerintahan daerah, perbedaan peran antara wali kota dan wakil wali kota kerap menjadi sumber friksi apabila tidak dibangun dengan pembagian kewenangan yang jelas.
Selain itu, konteks politik partai turut mempengaruhi persepsi publik terhadap isu Pecah Kongsi Dedie Rachim Jenal Mutaqin. Perbedaan latar belakang partai antara PAN dan Gerindra berpotensi menciptakan dinamika tersendiri, terutama menjelang kontestasi politik berikutnya.
Jika isu Pecah Kongsi Dedie Rachim Jenal Mutaqin terus bergulir tanpa klarifikasi resmi dari kedua belah pihak, maka persepsi publik bisa semakin menguat dan memengaruhi stabilitas politik Kota Bogor.
Pengamat menilai narasi Pecah Kongsi Dedie Rachim-Jenal Mutaqin muncul karena adanya perbedaan gaya kepemimpinan yang terlihat jelas di ruang publik.
Wakil Wali Kota Dinilai Lebih Moncer di Akar Rumput
Menurut Yusfitriadi, tingginya tingkat kepuasan terhadap Jenal Mutaqin tidak terlepas dari gaya kepemimpinannya yang aktif turun langsung ke masyarakat.
Beberapa aksi yang mendapat perhatian publik antara lain:
- Mengaspal jalan berlubang menggunakan dana pribadi
- Turun langsung membantu mengurai kemacetan
- Intens hadir dalam kegiatan masyarakat
Secara normatif, wakil wali kota biasanya lebih fokus pada pembenahan internal birokrasi. Namun dalam konteks ini, Jenal dinilai lebih dominan pada peran eksternal.
Sementara itu, wali kota dinilai publik lebih sering hadir dalam agenda seremonial dan kegiatan formal pemerintahan.
Tiga Indikator Dugaan Retaknya Hubungan Politik
LS Vinus memaparkan tiga indikator utama yang memunculkan dugaan retak hubungan kepemimpinan:
1. Dugaan Dominasi Peran
Adanya persepsi bahwa wali kota menguasai hampir seluruh lini strategis pemerintahan, yang seharusnya dibagi secara proporsional dengan wakil wali kota dan sekretaris daerah.
2. Intensitas Kemunculan di Ruang Publik
Wakil wali kota dinilai lebih dominan dalam aktivitas publik dan lapangan dibanding wali kota.
3. Faktor Orientasi Politik
Secara politik, keduanya berasal dari latar belakang partai berbeda:
- Dedie A. Rachim menjabat Ketua DPD Partai Amanat Nasional Kota Bogor.
- Jenal Mutaqin merupakan kader Partai Gerindra.
Dalam survei elektabilitas partai yang sama:
- Gerindra: 14,12 persen (peringkat pertama)
- Partai Keadilan Sejahtera: 7,50 persen (peringkat ketiga)
- PAN: 3,50 persen (peringkat ketujuh)
Konstelasi politik ini dinilai berpotensi menciptakan tarik-menarik kepentingan dalam dinamika pemerintahan Kota Bogor.
Dalam konteks politik lokal, isu Pecah Kongsi Dedie Rachim-Jenal Mutaqin tidak bisa dilepaskan dari dinamika partai yang menaungi masing-masing figur.
Dampak Politik: DPRD Berpotensi Terbelah?
Yusfitriadi mengingatkan bahwa jika dugaan pecah kongsi ini benar terjadi, dampaknya dapat meluas hingga ke DPRD Kota Bogor.
Polarisasi politik di legislatif dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas pemerintahan serta memperlambat proses pengambilan kebijakan publik.
Soliditas kepemimpinan menjadi faktor krusial di tengah berbagai tantangan pembangunan dan pelayanan masyarakat.
Jika isu Pecah Kongsi Dedie Rachim-Jenal Mutaqin terus berkembang tanpa klarifikasi langsung dari kedua pihak, maka persepsi publik bisa semakin menguat.
Survei LS Vinus menjadi sinyal penting bagi elite politik dan masyarakat Kota Bogor. Perbedaan tingkat kepuasan publik terhadap Dedie A. Rachim dan Jenal Mutaqin membuka ruang spekulasi mengenai dinamika internal pemerintahan.
Namun, apakah benar terjadi “pecah kongsi” atau sekadar perbedaan gaya kepemimpinan, waktu dan dinamika politik ke depan yang akan menjawab.
Pada akhirnya, publik menunggu apakah kabar Pecah Kongsi Dedie Rachim-Jenal Mutaqin benar adanya atau hanya dinamika politik biasa dalam pemerintahan daerah.












