Lelaki yang memiliki nama asli Herie Syahnilla Putra Siregar itu mengungkapkan, keripik buatan Keboen Sastra pemasarannya baru sebatas dari mulut ke mulut dan melalui WhatsApp Grup.
“Kita akan segera mengurus label halalnya ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) termasuk label sehat, kita akan urus ke BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) di Dinas Kesehatan,” ungkapnya.
Ia berkeinginan kalau usahanya terus berkembang, tidak menutup kemungkinan Keboen Sastra memproduksi Keripik Singkong. Tidak hanya keripik yang sudah digoreng, tapi bisa memproduksi sendiri mulai dari singkong sampai pengemasan dengan pangsa pasar lebih luas merambah ke pasar-pasar tradisional dan swalayan.
“Ini cita-cita kami ke depan. Mohon doanya, semoga usaha anak-anak jalanan ini bisa berkembang,” harapnya.

Lanjut Herie, jalanan merupakan sumber media belajar, tidak terbatas bagi seorang anak jalanan dalam pencarian jati diri. Dan di jalanan banyak bakat-bakat yang terpendam. Berawal dari pinggiran Terminal Baranangsiang Kota Bogor, dirinya mengadakan pelatihan-pelatihan bagi anak-anak jalanan dengan nama Grup Keboen Sastra.
Baca juga: Bogor Kota Sejuta Cerita Suguhan Keboen Sastra di Pentas Helaran HJB
Seiring berjalannya waktu, sambungnya, pada tahun 2019 grup ini berkembang menjadi Yayasan Rumah Kreatif Keboen Sastra yang menaungi anak-anak jalanan. Terutama yatim piatu dan anak-anak kurang mampu.
“Keboen Sastra itu adalah Kumpul Bersama Saatnya Kita Berkarya,” terangnya.












