Ketua DKKB Sebut Atmosfer Seni di Bogor Hidup, Tapi Masih Rapuh

Ketua DKKKB, Putra Gara.

BOGOR, Kobra Post Online – Pertumbuhan komunitas seni di Bogor banyak lahir dari ruang-ruang alternatif dan inisiatif secara mandiri.

“Semangat kolektif dan eksperimentasi menjadi ciri utama para seniman di Bogor, ” ujar Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Bogor (DKKB) Putra Gara dalam Diskusi Kebudayaan Sawala Dasa Wacana #8 yang digelar di Saung Edukasi Putra Bangsa, Kampung Pasir Angin Desa Cipicung Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor pada Sabtu (10/1) lalu.

Diskusi mengusung tema “Menimbang Atmosfer Kreatif Kesenian Bogor 2025, Menuju Resolusi 2026”. Diskusi menghadirkan tiga pembicara: Selai Putra Gara, Aan Handayani, musisi dan pegiat seni; serta Rahmat Iskandar, pemerhati seni budaya dan sejarah. Forum yang digelar rutin setiap tanggal 10 ini diselenggarakan oleh Daya Putra Bangsa yang dipandu langsung Heri Cokro sebagai penggagas diskusi.

Putra Gara menyebutkan, geliat seni dan budaya kerap berhadapan dengan persoalan klasik: keterbatasan ruang berekspresi, minimnya dukungan berkelanjutan, serta absennya ekosistem yang benar-benar berpihak pada proses kreatif.

Ia menilai atmosfer kreatif kesenian Bogor sejatinya hidup, tetapi masih rapuh. Kesenian kerap hadir sebatas agenda seremonial, tampil pada momentum tertentu tanpa ditopang keberlanjutan yang memadai bagi kehidupan para pelaku seni.

“Padahal, kesenian seharusnya menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Bogor, bukan sekadar pelengkap acara,” kata Putra Gara, lelaki asal Aceh yang sudah lama tinggal di Bogor menggeluti dunia film, sastra dan seni rupa.

Baca juga: Pra Musrenbang Kecamatan Rancabungur: Susun Usulan Perencanaan Pembangunan 2027

Satu sisi kata Gara, seniman menduga birokrasi bekerja kaku dan kurang peka terhadap dinamika kreatif. Di sisi lain, birokrasi justru belum sepenuhnya memahami peta potensi kesenian di wilayahnya sendiri: siapa pelakunya, apa kebutuhannya, dan bagaimana dampak sosialnya. Hubungan yang terbangun pun cenderung formal dan administratif, belum berkembang menjadi kemitraan yang setara dan produktif.

Sementara itu, Aan Handayani mengakui bahwa eksistensi kesenian tidak lagi semata ditentukan oleh produktivitas dan idealisme, tetapi oleh momentum ekonomi, seperti ajang pencarian bakat di televisi.Ia menyoroti munculnya generasi baru—khususnya Gen Z—yang berkarya tanpa beban idealisme tradisional. Mereka hadir sebagai selebgram, tiktokers, dan konten kreator yang diakui sebagai peristiwa seni karena kekuatan viralitas. “Dari sini, definisi karya seni berubah, tumbuh dalam beragam bentuk, dan menjadi anutan baru dalam berkarya,” tutup Aan.

Sementara itu, Rahmat Iskandar mengaku prihatin masih terpinggirkannya sektor kebudayaan.

“Cita-cita menjadi seniman sering dianggap jalan menuju kemiskinan. Mindset ini terbawa hingga ke pemerintahan, sehingga kebudayaan kerap menjadi bidang dengan anggaran minim dan bukan prioritas,” ungkapnya.

Baca juga: Sejumlah OKP di Ciomas Kecewa, DPD KNPI Kabupaten Bogor Dinilai Tidak Netral dan Terlalu Intervensi Muscam

Diskusi yang berlangsung dalam format melingkar itu mendapat antusias dari peserta yang hadir tidak hanya seniman juga komunitas Bogor Wanita Berkebaya (BWB), KPJ Merdeka Bogor, Komunitas 50+ Cabang Bogor, pewarta media, serta relawan Daya Putra Bangsa.

Penulis: YasoEditor: Iyan Sofyan