Dalam pelaksanaannya, setiap kelurahan membuat dua kelas belajar. Masing-masing kelas terdiri dari 15 orang untuk laki-laki dan perempuan dengan sasaran utama pra lansia yang akan berlangsung selama 6 bulan.
“Untuk waktu pelaksanaannya kita serahkan ke wilayah masing-masing,” lanjut Asep seraya menjelaskan pra lansia sebagai sasaran program ini. Menurutnya pengajian bagi anak-anak masih banyak tempat dan pilihan. Tapi tidak demikian untuk pra lansia atau para lansia. Ia berharap melalui program ini para pra lansia dan lansia di Kota Bogor bisa lebih semangat lagi belajar Al-Quran.
Baca juga : Forum Perangkat Daerah Bappenda Kabupaten Bogor
Lalu seperti apa yang terjadi di masyarakat? Berdasarkan pengamatan Camat Tanah Sareal, Sahib Khan, di beberapa kelurahan yang masuk wilayahnya, warga antusias mengikuti program ini. Sekitar 80% dari target peserta sudah tercapai untuk belajar 2 kali pertemuan dalam sebulan. Para pengajar pun sudah melaksanakan tugasnya.
“Antusiasme khususnya terlihat dari para ibu-ibu. Sedangkan di kalangan bapak-bapak masih slow response,” katanya.
Sahib menilai, bahwa program ini terkendala oleh minat para bapak yang tampaknya masih enggan mengikuti kegiatan belajar mengaji.
“Padahal, saya yakin masih ada antara bapak-bapak yang belum bisa membaca Al Quran tapi dengan berbagai hambatan mereka masih enggan ikut program ini,” tuturnya.
Sahib menduga, para bapak kesulitan ikut program ini karena masalah waktu, sehingga perlu penentuan waktu yang pas bagi mereka. Tetapi juga ada kemungkinan mereka masih malu untuk ikut belajar.
Untuk mengatasi hambatan itu, maka menarik apa yang terjadi di Masjid Al Madinah, Perumahan Mutiara Bogor Raya, Katulampa. Di masjid ini justru kaum bapak yang mengawali kegiatan program belajar mengaji. Awalnya, pengurus DKM menyelenggarakan kegiatan belajar mengaji untuk peserta anak-anak. Belakangan pihak DKM meminta anak-anak itu untuk mengajak bapaknya ikut belajar. Lambat laun beberapa orang bapak mulai tergerak untuk ikut belajar dengan imam masjid sebagai pembimbing.
“Sebelum pandemi, kami para bapak mulai terbiasa kumpul di masjid. Belajar membaca Al Quran bada Subuh lalu sarapan pagi dan olahraga bersama. Alhamdulillah banyak yang tertarik,” ungkap Adi, Ketua DKM Al Madinah.












