Scroll untuk baca artikel
Info Bogor

Mumi Blusukan di Sukasari Bogor Timur, Ada Apa?

57
×

Mumi Blusukan di Sukasari Bogor Timur, Ada Apa?

Sebarkan artikel ini
mumi
Mumi keliling kampung terima aspirasi warga. (Foto: Dok. Yaso).

BOGOR, Kobra Post Online – Mumi dikenal sebagai wujud dari mayat yang diawetkan agar tetap seperti bentuk aslinya. Mumi sudah populer dalam budaya peradaban Mesir Kuno.

Ternyata mumi tidak hanya hanya ada di Mesir, namun menjelma di Sukasari, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor. Warga RT 01-02 RW 03 Sukasari pada Jumat (17/5) siang lalu, dibuat heboh dengan kehadiran sosok mumi blusukan keliling kampung dengan membawa gentong bertuliskan ‘aspirasi rakyat’.

Sosok itu diperankan oleh Heri Cokro, seorang seniman Jangkar Jiwa dalam pentas Happening Art berjudul ‘Aspirasi Tak Boleh Mati’.

Diruas gang-gang sempit perkampungan, sosok mumi berkeliling. Sesekali berhenti dihadapan siapa saja guna meminta aspirasi, untuk dimasukkan ke dalam gentong aspirasi.

Warga sempat dibuat kaget, bahkan ada beberapa anak yang berlari menjauh melihat sosok berbalut kain putih, serupa mumi. Berjalan tertatih seperti zombie, menghampiri mereka, wajahnya pun tampak seperti tengkorak yang cukup mengerikan untuk dilihat.

Namun setelah agak lama warga pun mengerti, dan mereka berlomba-lomba memasukan aspirasinya dalam kertas untuk dimasukan dalam gentong.

mumi.
Mumi dan penguasa ganda.
Baca juga: Diskusi Publik Pitulasan #4, Dedie A. Rachim Beberkan Tagline Bogor Beres

Aspirasi warga tersebut dibawanya ke arah Taman Malelang Sukasari. Dimana sedang dihelat Diskusi Publik Pitulasan #4 yang menghadirkan pembicara utama Dedie A. Rachim, Mantan Wakil Wali Kota Bogor.

Setelah sampai di lokasi diskusi, mumi menghadap sosok penguasa berwajah ganda yang diperankan Lanang Kosasih seorang seniman dari KPJ (Kelompok Penyanyi Jalanan) Bandung. 

Penguasa berwajah ganda (sebelah kiri berwajah merah dan sebelah kanan berwajah putih), sosok mumi menyampaikan aspirasi rakyat kepada sosok penguasa yang disambut hangat oleh sisi wajah putih. Kemudian disimpan begitu saja oleh sisi wajah berwarna merah.

Menurut Heri Cokro, sosok penguasa ganda berwajah merah dan putih itu untuk menggambarkan aspirasi rakyat dianggap penting, dan berharga saat para penguasa belum memiliki kekuasaan. Akan tetapi segera dilupakan saat kekuasaan sudah didapatkan.

Akhirnya sang mumi kembali membawa aspirasi rakyat menuju panggung kekuasaan (tempat duduk pembicara berdiskusi).

mumi
Mumi bacakan aspirasi warga Sukasari dihadapan penguasa.
Baca juga: Ini Strategi ICMI Orda Kota Bogor Menyikapi Pernyataan Wakil Ketua MPR RI

Saat di atas panggung, sosok itu langsung membacakan aspirasi tersebut. Agar didengar oleh semua orang termasuk oleh penguasa yang duduk di atas singgasana. Penguasa yang sedang duduk itu diperankan oleh Tohir Kulikulo, Ketua Trotoar Kreatif, dan Ketua KPJ Merdeka Kota Bogor.

Heri Cokro mengatakan, pragmentasi happening art ini dimainkan oleh Heri cokro, Lanang Kusasih dan Tohir Kulikulo itu cukup memberikan gambaran bahwa kekuasaan seringkali membutakan seseorang.

Karena, kata Heri Cokro, dengan kekuasaannya ia berbuat sewenang-wenang. “Pesan happening art yang kami pentaskan memang ditujukan kepada calon wali kota, yang akan berkontestasi pada Pilkada 2024,” kata Heri kepada Kobra Post Online.

Lanjut Heri, pementasan happening art dimaksudkan untuk disampaikan kepada Dedie A. Rachim sebagai bakal calon Wali Kota Bogor.

Lalu kenapa sosok mumi yang dipilih? Heri mengatakan, sebagai simbolisasi dari pengawetan aspirasi, seperti halnya tubuh manusia yang diawetkan. Sehingga jika nanti dibutuhkan baru diangkat sebagai pencitraan, dihidup-hidupkan untuk membangun harapan, sebagai pemanis janji dan program para calon pemimpin.

“Setelah dia terpilih, maka aspirasi kembali dibuat mati suri, diawetkan menjad mumi,” tutur Heri.

Baca juga: Lewat Halalbihal, Dedie Ajak ICMI Bersinergi dengan Pemkot Bogor

Diskusi publik bulanan ini diselenggarakan setiap tanggal 17, yang digagas Komunitas Pekerja Seni Bogor yang mengangkat tema ‘Membaca Paradigma Kota Bogor Antara Identitas, Perencanaan dan Lokal Genius Dalam Kacamata Dedie A Rachim,’

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *