BOGOR, Kobra Post Online – Saung Edukasi Daya Putra Bangsa secara reguler pada tanggal 10 setiap bulannya menggelar diskusi kebudayaan dan pendidikan bertajuk Sawala Dasa Wacana (Sawala) di Kompleks Edukasi Putra Bangsa, Kampung Pasirangin, Desa Cipicung, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.
Sawala kali ini memasuki edisi ke-2 yang mengangkat tema “Menimbang Pendidikan Masa Kolonial dan Refleksi Kekinian” dengan pemantik wacana Rachmat Iskandar, tokoh senior pemerhati sejarah Bogor.
Heri Mardi Purwanto selaku penggagas kegiatan Sawala mengatakan, diskusi kali ini berfokus pada pengembaraan dan pencarian ide-ide segar serta nilai-nilai kultural yang berpijak pada kearifan lokal yang pada gilirannya bisa dikompilasi untuk menjadi rujukan agar bisa diterapkan pada praktik pendidikan dan pembelajaran, baik di sekolah formal maupun non-formal.
Sebagai pemantik diskusi, Rachmat Iskandar menyampaikan bahwa tidak semua muatan materi pendidikan kolonial yang menekankan pada kepatuhan hirarki terhadap pemerintah kolonial, apatis terhadap kesadaran nasional, eropa sentris.
Segregasi sosial ini bersifat negatif, karena dari rahim pendidikan tersebut lahir kesadaran kaum pribumi dan bermunculan gerakan kritik serta perlawanan melalui berbagai kanal. Seperti gerakan pendidikan taman siswa, Muhammadiyah dan lain lain, media massa lokal, serta perkumpulan politik yang berkesadaran nasional.
Baca juga: Iduladha Bahagia, Daya Putra Bangsa Bagikan 100 Paket Daging Kurban
Rachmat mengatakan, nilai moralitas, etika profesional yang eropa sentris ini banyak pula melahirkan output Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni dalam mengerjakan bangunan infrastruktur kokoh yang masih tegak berdiri hingga saat ini.
“Jadi sangat berbeda dengan out put dunia pendidikan kekinian yang seringkali melahirkan banyak penyimpangan dalam segala bidang,” kata Rachmat yang juga penulis rubrik Ruang Cinta Pusaka Kobra Post Online.
Diskusi Sawala ke-2 kali ini dihadiri unsur pendidikan, seniman, jurnalis dan mahasiswa KKN IPB Universiti.
Diskusi diakhiri dengan obrolan santai tentang situasi kebangsaan serta makan bersama dengan menu ala Kompleks Edukasi Putra Bangsa.







