Dan hal yang ke-empat, lanjut Bima Arya, adalah nyali yang harus diimbangi dengan empati.
Karena, sambungnya, memiliki nyali tanpa empati malah hanya akan menjadi penindas dan menjadi zalim.
“Semua langkah kita harus berdasarkan hati dan punya empati. Empati terhadap warga, empati terhadap staf, empati terhadap semua,” ujarnya.
Hal terakhir yang disampaikan Bima Arya adalah konsistensi, karena semua yang dilakukan harus ada dalam kerangka konsistensi. Sehingga tidak berubah dan tidak bergeser tetap ajeg .
“Tempat ini (Jalan Pedati, Jalan Suryakencana) adalah simbol ke-lima hal tersebut. Kalau nggak ada visi ke depan, 10 tahun lagi tempat ini akan semakin hancur. Kalau kemudian kita nggak mampu untuk turun ke lapangan, maka tempat ini akan semakin banyak mudharatnya. Kalau kita tidak punya nyali untuk bergerak terus sesuai konsep dan perencanaan, maka kita akan tunduk kepada kepentingan-kepentingan yang bukan berpihak pada rakyat dan kepentingan umum. Dan kalau kita tidak punya hati dan tidak berempati, maka kita akan main gusur, main tidak di sini. Dan kalau kita tidak konsisten, maka pendekatannya akan selalu berubah,” jelas Bima Arya.
Baca juga: Asmawa Tosepu Pj Bupati Bogor Gantikan Iwan Setiawan
Untuk itu Bima mengingatkan kepada semua jadilah pimpinan hebat, jadilah ASN hebat dengan lima dimensi.
“Dan marilah setiap ujian kita hadapi dengan keyakinan bahwa sesuatu indah pada waktunya, bahwa dibalik kesulitan Insya Allah ada kemudahan, hanya bagi orang-orang yang bersyukur dan bersabar,” katanya.
Untuk yang naik pangkat dan promosi, Bima Arya menyampaikan selamat bertugas dan selalu bersyukur atas tanggung jawab yang diberikan. Dan selalu bersabar pada setiap tantangan serta ujian yang dibebankan. “Dan berdoa semoga Allah mudahkan,” ucapnya.






