Pembukaan jalan tembus ini sambung Eman, cukup sulit karena harus membongkar perbukitan yang sangat terjal.
“Awalnya di lokasi ini memang ada jalan setapak itupun harus berbelok-belok dan turun naik, sehingga menyulitkan masyarakat atau petani untuk mengangkut hasil panennya. Banyak hasil pertanian dan perkebunan warga tidak bisa dijual, karena ongkos angkutnya sangat mahal dibandingkan harga hasil pertanian atau perkebunannya itu sendiri,” paparnya.

Eman bersyukur kini akses jalan sudah dibuka, warga dan para petani di sini sedikit leluasa ketika membawa hasil panen untuk dijual. Walaupun jalan tembus itu belum rampung, baru sampai perataan tanah, namun sudah bisa dilalui oleh kendaraan roda dua dan empat.
“Target kami, pada 2023 jalan tembus sudah rampung dengan betonisasi, tapi sebelumnya harus dibangun saluran air atau drainese. Percuma saja kalau jalan dibetonisasi tidak ada saluran airnya, tidak akan tahan lama, jalannya akan rusak diterjang oleh air terutama jika hujan turun,” kata Kades.












