Sejarah Pengurus Masjid Assulaemani
Apalagi, lanjut Abu, kawasan Babakan khususnya Bagunde punya cerita panjang, sejarah di masa penjajahan Belanda. Sejak dulu warga Babakan terkenal guyub dan kompak.
“Bapak saya pernah bercerita bahwa, Babakan di zaman penjajahan Belanda pernah di bumi hanguskan. Yang tersisa hanya masjid, sekarang bernama Masjid Assulaemani,” tuturnya.
Saat itu, sambungnya, semua warga Babakan mengungsi ke wetan, sekitaran Tanah Baru dan Sukaraja. Setelah aman maka membuat babak baru.
“Makanya ada nama Babakan Kampung Baru. Babakan Baru dipimpin oleh RH Sulaeman atau yang akrab disebut Mama Ole salah satu ulama yang banyak santrinya,” ujarnya.
Baca juga : Kadin dan Forkopimda Bahas Pemulihan Ekonomi Kota Bogor
Ketua DKM Masjid Assulaemani RH Ending Muhidin menambahkan, setelah membuka Babakan Kampung Baru, RH Sulaeman yang pertama kali merehab masjid itu. Sehingga menamakannya Masjid Assulaemani.
RH Ending menjelaskan, K RH M. Noch atau Mama Enoh sebagai menantu RH Sulaeman menggantikan setelah beliau meninggal. Lalu RH Gaos yang merupakan anak dari RH Sulaeman meneruskan kepengurusan masjid setelah wafatnya Mama Enoh.
“Kemudian pengganti selanjutnya yaitu RH Gaos bin RH Sulaeman. Sementara RH Kholid sebagai adiknya hanya menjadi penasihat masjid saja. Sedangkan yang memimpin sebagai DKM yaitu RH Ending Muhidin anak dari RH Gaos bin RH Sulaeman hingga saat ini,” paparnya menceritakan.
Lanjut RH Ending, RH Yahya Darma bin Mama Enoh tidak sempat menjadi DKM. Sedangkan Ustadz Asep, cucu dari Mama Enoh menjadi Imam Jumat di Masjid Assulaemani. “Terdapat makam tertua di sekitar Masjid Assulaemani. Itu adalah makam Uyut Mama Darma,” ucapnya menutup cerita.












