BOGOR, Kobra Post Online – Isu Proyek Pembangunan Bogor kembali menjadi perhatian publik setelah disorot dalam diskusi Sawala Dasa Wacana edisi ke-9. Forum ini membahas efektivitas pembangunan daerah serta peran pemuda dalam mengawal kebijakan publik.
Diskusi yang berlangsung di Kompleks Edukasi Putra Bangsa, Kecamatan Cijeruk, menghadirkan sejumlah tokoh muda lintas organisasi. Mereka menilai Proyek Pembangunan perlu pengawasan lebih ketat agar berdampak nyata bagi masyarakat.
Infrastruktur Jalan Jadi Contoh Proyek Pembangunan yang Dinilai Belum Optimal
Ketua Komunitas Pemuda Peduli (KPP) Bogor Raya, Beni Sitepu, menyoroti kondisi infrastruktur jalan yang cepat rusak atau “ambrudul”.
Menurutnya, beberapa proyek fisik dalam Proyek Pembangunan Bogor terlihat belum maksimal dari sisi kualitas dan pengawasan.
“Penggunaan anggaran publik harus dikawal. Jika pemuda tidak peduli terhadap Proyek Pembangunan Bogor, siapa lagi yang akan memastikan transparansi?” tegasnya.
Ia menambahkan, penggalian proyek yang kurang tertata juga menjadi perhatian karena berdampak pada aktivitas masyarakat.
Transparansi Anggaran dalam Proyek Pembangunan Bogor
Selain kualitas fisik, diskusi juga menekankan pentingnya transparansi anggaran. Para peserta menilai keberhasilan Proyek Pembangunan Bogor tidak hanya diukur dari realisasi fisik, tetapi juga dari akuntabilitas penggunaan dana publik.
Keterlibatan pemuda sebagai kontrol sosial dinilai penting untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.
Forum ini mendorong kolaborasi lintas organisasi agar pengawasan terhadap Proyek Pembangunan lebih sistematis dan berkelanjutan.

Pembangunan Daerah Tidak Hanya Soal Beton dan Aspal
Yulia Nasari dari Damas menekankan bahwa arah Proyek Pembangunan Bogor seharusnya tidak hanya fokus pada infrastruktur fisik.
Menurutnya, pembangunan karakter, penguatan nilai budaya, dan pendidikan lokal juga harus menjadi bagian dari prioritas pembangunan daerah.
Pemuda dan Masa Depan Pembangunan Bogor
Sekretaris Umum HMI Cabang Kota Bogor, Andri Fadillah Alamsyah, menyebut pemuda sebagai estafet kepemimpinan masa depan.
Ia menegaskan bahwa generasi muda harus meningkatkan literasi dan kompetensi agar mampu berkontribusi dalam perencanaan maupun pengawasan Proyek Pembangunan Bogor.
Penggagas diskusi, Heri Cokro, menutup forum dengan penegasan bahwa pemuda memiliki Tri Peran: agent of change, social control, dan moral force.
“Mau tidak mau, arah Proyek Pembangunan Bogor ke depan akan sangat ditentukan oleh kesadaran generasi muda hari ini,” ujarnya.
Baca juga: Pemprov Jabar Segera Lelang Proyek Jalan Batu Tulis Bogor, Anggaran Rp22,5 Miliar Disiapkan






