Scroll untuk baca artikel
Opini & Editorial

SoraHita: Dari Kebutuhan Menuju Kemandirian melalui Program Soradaya

×

SoraHita: Dari Kebutuhan Menuju Kemandirian melalui Program Soradaya

Sebarkan artikel ini
SoraHita: Dari Kebutuhan Menuju Kemandirian melalui Program Soradaya

BOGOR, Kobra Post Online – Memenuhi kebutuhan tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk mengetahui apa yang diinginkan, tetapi juga usaha untuk mendapatkannya dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Namun, pemahaman tersebut masih menjadi tantangan bagi sebagian anak tunagrahita di SLB BC Mekarsari 2 Bogor.

Permasalahan tersebut menjadi salah satu dasar bagi tim PKM-PM IPB University untuk menghadirkan SoraHita, program yang dirancang untuk mendukung perkembangan kemampuan komunikasi dan interaksi anak tunagrahita. Program ini dilaksanakan di SLB BC Mekarsari 2 Bogor dengan melibatkan 14 anak tunagrahita murni sebagai sasaran. SoraHita dikembangkan oleh tim yang diketuai Anjani Natalia bersama empat anggota dan dibimbing oleh Dr. Adisti PP Hartoyo.

Setelah anak memahami pentingnya komunikasi dalam menyampaikan kebutuhan, SoraHita dilanjutkan melalui SoraDaya: Jelajah Aksi. Kegiatan ini terdiri atas dua tahap, yaitu Daya Langkah dan Daya Juang, yang dirancang untuk membangun pemahaman anak mengenai pentingnya usaha dalam memenuhi kebutuhan serta meningkatkan kemampuan berinteraksi dengan orang lain dalam mencapai tujuan.

SoraHita: Dari Kebutuhan Menuju Kemandirian melalui Program Soradaya

Pada Daya Langkah, anak menyusun puzzle secara individu dengan bantuan fasilitator. Untuk memperoleh potongan puzzle yang dibutuhkan, anak menggunakan AcceSora Card melalui proses pertukaran dengan fasilitator. Selanjutnya, pada Daya Juang, anak menyusun puzzle secara berkelompok dengan bantuan teman sebaya. Melalui aktivitas tersebut, anak belajar bahwa pencapaian tujuan membutuhkan usaha sekaligus interaksi dengan orang lain.

Kegiatan diawali dengan pre-test dan dilanjutkan dengan intervensi menggunakan puzzle dan AcceSora Card, kemudian diakhiri dengan post-test. Pengukuran dilakukan untuk melihat perubahan kemampuan anak dalam menyampaikan kebutuhan melalui usaha dan interaksi dengan orang lain.

Melalui SoraDaya, kegiatan bermain puzzle menjadi sarana bagi anak untuk belajar bahwa setiap kebutuhan membutuhkan usaha dan dapat dicapai melalui interaksi dengan orang lain. Tim SoraHita berharap pengalaman tersebut dapat terus diterapkan anak dalam aktivitas sehari-hari, sehingga kemampuan berusaha, berinteraksi, dan mencapai tujuan dapat berkembang secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *