Scroll untuk baca artikel
Info Bogor

Keboen Sastra Kritik Atang dan Dedie Tidak Hadir di Acara Paamprok Jonghok

768
×

Keboen Sastra Kritik Atang dan Dedie Tidak Hadir di Acara Paamprok Jonghok

Sebarkan artikel ini
keboen sastra.
Para musisi dan seniman berkumpul dalam acara bertajuk ‘Paamprok Jonghok’.

BOGOR, Kobra Post Online – Meski Kota Bogor sempat diguyur hujan, namun tidak menyurutkan para musisi dan seniman berkumpul dalam acara bertajuk ‘Paamprok Jonghok’ (bertemu muka) yang digelar di Taman Ekspresi, pekan lalu.

Paamprok Jonghok diinisiasi oleh Yayasan Keboen Sastra, salah satu kelompok yang mewadahi seniman jalanan di Bogor. Namun pihak Keboen Sastra menyayangkan ketidak hadiran bakal calon Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim dan Atang Trisnanto.

“Sebetulnya kami mengundang dua bakal calon Wali Kota Bogor yaitu Pak Dedie dan Pak Atang. Kami menyangkan mereka berdua tidak hadir,” kata penggagas Paamprok Jonghok yang juga pendiri Keboen Sastra, Herie Matahari kepada Kobra Post Online, Kamis (8/8).

Padahal, kata Herie, para pekerja seni di Kota Bogor ingin mengetahui jika nanti terpilih menjadi Wali Kota Bogor, bagaimana nanti kepedulian mereka terhadap warganya, termasuk kepedulian terhadap para kerja seni.

“Sayangnya mereka tidak datang, padahal buat mereka adalah kesempatan untuk menyampaikan gagasan, dan pikirannya, bagaimana ke depannya bisa membangun ruang-ruang alternative, serta bisa berkolaborasi dengan komunitas-komunitas seni agar lebih produktif,” kata Herie.

Baca juga: Bogor Kota Sejuta Cerita Suguhan Keboen Sastra di Pentas Helaran HJB

Herie juga menyesalkan kurangnya perhatian dari Pemerintah Kota Bogor terhadap musisi jalanan. “Tidak adanya anggaran selalu menjadi alasan klasik,” tandasnya.

Lanjut Herie, hadirnya Paamprok Jonghok di ruang publik taman kota ini, sebagai bentuk atas kesadaran perlunya membangunkan daya kreatifitas para pelaku seni, khususnya musisi jalanan.

“Banyak para seniman jalanan selain pandai bermain musik juga memiliki keahlian membuat kerajinan tangan. Jadi di acara ini kita tampilkan karya-karya kerajinan tangan para seniman jalanan,” ungkapnya.

Baca juga: Pj Bupati Bogor Janjikan Pembangunan SMPN 2 Rancabungur di Tahun 2025

Selain itu, tambah  Herie, kegiatan yang rutin digelar empat bulan sekali ini untuk menghidupkan kembali taman sebagai ruang kultur berbudaya local. Sehingga terbentuk karakter, dan pada akhirnya terbangun indentitas Bogor atau ciri khas Bogor (Bogor banget).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *