Scroll untuk baca artikel
Sorot Desa

Kisah Sri Widiarti 3 Periode Pimpin Desa Sukamakmur

539
×

Kisah Sri Widiarti 3 Periode Pimpin Desa Sukamakmur

Sebarkan artikel ini
Kisah Sri Widiarti Tiga Periode Pimpin Desa Sukamakmur
Kepala Desa Sukamakmur Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor, Sri Widiarti.

BOGOR, Kobra Post Online – Kepala Desa Sukamakmur, Sri Widiarti salah satu kepala desa (kades) perempuan di Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor yang sukses menjabat hingga tiga periode. Ibu Ii panggilan akrabnya, sebelum menjabat sebagai kepala desa aktif di berbagai organisasi.

Sri Widiarti ikut dalam kontestasi pemilihan kepala desa (Pilkades) karena terdorong ingin membantu masyarakat dan memajukan desanya.

Pekan lalu, Srikandi dari Sukamakmur ini berkesempatan wawancara podcast melalui Youtube Kobra Post TV. Berikut petikan wawancaranya:

KP: Sri Widiarti tiga kali menjadi Kades. Bisa ceritakan perjalanan Anda sampai tiga kali terpilih menjadi kades?

Sri Widiarti: Ya memang saya sudah tiga periode terpilih menjadi kades. Sejak April lalu, saya terpilih yang ketiga kalinya. Perjalanannya memang tidak mudah. Periode pertama saya menjabat kades pada April 2011, periode ke 2 April 2017 dan periode ketiga April 2023.

Saya ini hanya seorang Ibu rumah tangga, sejak dulu saya aktif di organisasi. Terpanggil ingin kerja di desa membangun desa. Dengan segala keterbatasan saya, Alhamdulillah di tahun 2011 saya mencalonkan diri menjadi kades. Saat itu Sukamakmur kadesnya meninggal dunia. Waktu pencalonan saya harus bersaing dengan para senior. Kalau tidak salah hak pilihnya 7.600-an. Selanjutnya periode ke 2 kurang lebih hak pilihnya 8.000-an dan saya mendapatkan suara 60 persen. Sementara di periode ke 3, saya mendapatkan lebih dari 50 persen.

Ini suatu amanah luar biasa bagi saya. Artinya masyarakat kembali mempercayakan kepada saya untuk memimpin Sukamakmur. Dalam perjalanannya tentunya banyak hal dan rintangan. Namun rintangan itu berhasil dilewati dengan keyakinan bahwa ini adalah amanah masyarakat.

KP: Apakah dari awal Anda memiliki cita-cita menjadi kades atau karena dorongan dari masyarakat?

Sri Widiarti: Kalau cita-cita menjadi kades tidak ada sama sekali. Hanya ada yang mendorong dari teman-teman dan tokoh-tokoh masyarakat yang meminta saya ikut pesta demokrasi. Saya ini aktif di organisasi. Melihat kondisi masyarakat desa greget, terpikir kalau saya jadi kades bisa membantu masyarakat. Bantuan tidak hanya berbentuk materi, tapi bisa dengan pekerjaan.

KP: Setelah terpilih menjadi kades bagaimana Anda merangkul lawan-lawan politik?

Sri Widiarti: Prinsip saya tidak mau memelihara politik. Jadi setelah selesai pesta demokrasi kembali membaur, baik itu dengan relawan maupun dengan pesaing atau kandidat. Jadi ada waktunya berkompetisi. Kompetisi ada yang menang dan kalah. Setelah selesai kompetisi kita kembali guyub lagi, dan selesai saat itu saja.

KP: Apa yang menjadi visi dan misi Anda menjadi kades. Apa masih melanjutkan program yang belum tuntas dari dua periode sebelumnya?

Sri Widiarti: Saya sudah punya program kerja, karena kewajiban kades harus membuat Rencana Pembangunan Menengah Desa (RPJMdes). Jadi, melanjutkan program periode sebelumnya yang belum tuntas dan belum terlaksana. Insya Allah dengan diberi amanah kembali akan kita lanjutkan, sambil terus menggali potensi-potensi yang ada.

Perlu diketahui bahwa Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Sukamakmur mengelola PAM Desa (Perusahaan Air Minum Desa). Sekarang PAM Desa sudah melayani air bersih untuk 2.000 rumah tangga di 7 RW. Airnya yang dikelola dari mata air di desa tetangga dan kita menjalin kerja sama dengan desa itu. 

Warga yang mendapat pasokan air bersih membayar tarif sesuai yang ditetapkan dalam peraturan desa (perdes). Dalam peraturan desa (perdes) itu juga ada tarif sosial, gratis diperuntukan bagi keluarga kurang mampu dan sarana ibadah, seperti Masjid, Musholla, pondok pesantren serta Majlis Taklim.

KP: Bagaimana dengan program Samisade di Sukamakmur?

Sri Widiarti: Kita fokus betonisasi jalan. Alhamdulillah untuk jalur utama betonisasi sudah selesai di wilayah RT 03 dan 05. Kegiatan ini dilakukan berturut-turut tahun pertama dan kedua. Sedangkan tahun ke tiga betonisasi di wilayah RW 06 dan RW 07.

Saya punya program menuntaskan jalan desa, sehingga memudahkan masyarakat untuk beraktivitas. Mengenai pengadaan lahan untuk jalan memang sudah ada tinggal membangun, namun ketika akan ada kegiatan, kita musyawarahkan dulu dengan warga yang lahannya terkena untuk pembangunan jalan.

KP: Apakah pekerjaan Samisade tidak tumpang tindih dengan Dana Desa (DD)?

Sri Widiarti: Memang dari dana desa ada alokasi untuk pembangunan infrastruktur. Kalau Samisade kita fokus betonisasi jalan. Sedangkan alokasi dana desa diperuntukan membangun TPT (Tembok Penahan Tanah). Sukamakmur ini salah satu desa rawan bencana longsor dan angin puting beliung.  Jadi, membangun TPT untuk penahan longsor.

Selain itu, dana desa 25 persennya diperuntukan untuk Bantuan Langsung Tunai (BLT), juga dialokasikan untuk ketahan pangan yang dikelola oleh 4 kelompok tani yaitu peternakan kambing dan ikan air tawar.

Baca juga: Desa Sukamakmur Bagikan Dana Insentif

KP: Bagaimana Anda memudahkan pelayanan kependudukan seperti KTP dan KK serta pelayanan lainnya?

Sri Widiarti: Ke depannya pelayanan mengarah ke online. Nanti para Ketua RT dan RW ketika akan mengurus pelayanan kependudukan untuk warganya tidak harus datang ke kantor desa, cukup pergunakan aplikasi whatsApp, akan langsung dilayani oleh petugas pelayanan desa.

KP: Kita dapat informasi bahwa Anda meluncurkan kartu Prakerja, bukankah ini sudah menjadi program pemerintah?

Sri Widiarti: Betul, kartu Prakerja adalah program pemerintah yang pendaftarannya bisa diakses sendiri secara online. Tapi saya mencoba membantu masyarakat yang kurang begitu pandai menggunakan HP Android, melalui Tim Prakerja mendata secara door to door, mendatangi rumah-rumah warga untuk didaftarkan menjadi peserta prakerja.

Alhamdulillah dari hasil pendataan itu terjaring 800 warga Sukamakmur menjadi peserta prakerja. Warga diberikan pelatihan-pelatihan keterampilan secara online dengan harapan nantinya setelah terampil bisa membuka usaha sendiri. Para peserta Prakerja selain mendapat pelatihan juga ada bantuan uang tunai Rp 700 ribu yang ditransfer melalui rekening peserta prakerja.

Selain prakerja, saya juga mengupayakan BPJS Ketenagakerjaan untuk para Ketua RT, RW, mantan Ketua RT, RW, dan tokoh masyarakat. Jadi mereka didaftarakan sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Pendaftarannya cukup menyerahkan KTP dan KK tanpa harus membayar iuran bulanan. Dengan memegang kartu BPJS Ketenagakerjaan, ketika ada sesuatu yang tidak diinginkan, baik karena kecelakaan atau meninggal dunia, ahli warisnya akan mendapatkan santunan. Bantuan program kartu Prakerja dan BPJS Ketenagakerjaan ini terealisasi berkat bantuan dari salah satu tokoh.

KP: Apa potensi UMKM yang ada di Sukamakmur?

Sri Widiarti: mayoritas warga Sukamakmur sebagai pengrajin sepatu dan sandal. Produk sepatu dan sandal Sukamakmur sudah banyak dipasaran termasuk di mall-mall di Bogor. Walaupun memang merek sepatu dan sandal buatan warga Sukamakmur tidak tertera, tapi para pengrajin sudah paham bahwa sepatu dan sandal dipasaran banyak diproduksi oleh para pengrajin Sukamakmur.

Sukamakmur adalah salah satu desa binaan dari Universitas Pakuan. Para pengrajin sepatu dan sandal diberikan pelatihan bagaimana membuat sepatu dan sandal yang baik termasuk pemasaran secara online.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *