Mengenal Bunker Tinggalan Masa Kolonial Belanda di Bogor Selatan

oleh -2.182 views

Penulis : Rachmat Iskandar (Penggiat Benda Cagar Budaya)

Kobrapostonline.com – Sarana pertahanan dalam bentuk bundar silindris ini terbuat dari bahan beton masif. Di bagian tertentu dari struktur bangunannya dilengkapi lubang pengintai.

Masyarakat setempat sekitar Kelurahan Lawang Gintung Kecamatan Bogor Selatan Kota Bogor sebenarnya sudah lama mengenalnya.

Ditemukan tanpa sengaja ketika di lahan yang dikenal sebagai lahan Gumati itu sedang membangun peruntukkan restoran dan cafe.

Pekerja proyek tersebut telah menghancurkan salah satu dari empat bunker di lahan tersebut.

Ternyata kemudian di beberapa lokasi benda tersebut ditemukan, yaitu di belakang Gumati, serta di sekitar halaman rumah Bapak Djasni juga ditemukan  walaupun  pada bagian tertentu telah rusak.

Selain itu di lahan milik Bank Mandiri ditemukan dua buah bunker dalam keadaan utuh dan terpelihara.

Kedua bunker tersebut itulah yang menjadi obyek penelitian dan ekskavasi oleh Tim dari Balai Arkeologi (BALAR), Bandung, Balai Perlindungan Peninggalan Purbakala (BP3), Serang, Dr. Hasan Djafar dari FIB, UI dan DR. Uka Tjandrasasmita dari Universitas Islam Negeri Jakarta/Dosen Fakultas Sastera Unpak Bogor.

Menariknya lagi Bunker juga ditemukan di lahan milik PT. KAI, tepat di belakang Istana Hing Puri Bimadakti.

Satu dari tiga Bunker tersebut, telah pecah dan sebagian melesak ke dalam tanah.

Adapun Bunker yang terletak di lahan milik Abdurrahman Said Bajenet terawat dengan baik.

Lahan yang terletak di Jalan Lawang Gintung dekat kawasan Situs Embah Dalem itu diduga lokasi Situs Sumur Tujuh dan heboh sesaat setelah muncul petaka angin puting beliung melanda kawasan tersebut.

Penelitian awal hasil temuan yang yang diindikasikan Benda Cagar Budaya (BCB) berupa Bunker dan artefak budaya tinggalan masa prasejarah di wilayah Kecamatan Bogor Selatan dan Bogor Barat, dilakukan pada 13 Februari 2009.

Penyelanggaranya adalah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor. Saat itu yang menjabat Kepala Disbudpar adalah Drs. H. Ade Syarif Hidayat, M.Pd.

Sejarah penelitian awal, pengkajian  sampai proses penetapan Bunker, satu dari lima BCB tersebut oleh Pemerintah Kota Bogor, telah melibatkan tiga lembaga terkait yaitu Balar Bandung, DK3B Serang dan Perguruan Tinggi yaitu UI, UIN dan Unpak Bogor.

Khusus untuk obyek bunker dikaji mengenai fungsi, tata letak, dan masa pembuatannya.

Sedangkan empat temuan yang lain adalah fragmen kramik, batu dakon dan punden berundak.

Empat temuan lainnya yaitu batu tapak, batu dakon dan punden berundak.

Dari temuan BCB tersebut yang paling baru masa pembuatannya adalah Bunker. Diperkirakan dibangun pada masa Kolonial sekitar tahun 1935-1942.

Di dalam wujud fisik, Bunker merupakan bangunan berbentuk silindris, dibuat dari bahan beton bertulang.

Di dalamnya membentuk ruang atau bergeronggang. Menilik dari garis tengahnya yang sekitar 2,40 cm memiliki keleluasaan orang dewasa masuk ke dalamnya.

Adapun dimensi ketinggian berbeda-beda. Tampak ada unsur pemikiran lokasi untuk merancangya.

Misalnya di lokasi temuan antara satu dengan lainnya berbeda. Bunker di lahan Resto-Cafe Gumati, lahan eks PT Bank Mandiri dan di lahan PT KAI masing-masing ketinggian berkisar antara 100-180 cm.

Bunker yang memiliki ketinggian 180 cm terletak di lokasi lahan PT Bank Mandiri, sedangkan yang paling pendek sekitar satu meter terletak di pinggir rel kereta api jurusan Bogor-Sukabumi, tepatnya di belakang Istana Batutulis.

Para peneliti belum ada yang sepakat tentang fungsi  Bunker tersebut. Bangunan dengan bentuk silindris itu memiliki ketebalan sekitar 30 cm, dengan rangka besi beton berukuran tebal 1 cm mungkin semacam sarana pengintai atau semacam “veil box”, berfungsi mengintai arah musuh yang datang.

Di beberapa bagian dari dinding bunker terdapat lubang-lubang pengintai berbentuk empat persegi panjang dengan dimensi 15×30 cm.

Lubang-lubang intai itu tampak didesain sedemikian rupa sehingga si pengintai bisa memanfaatkan arah pandang dan jarak pandang terhadap obyek sasaran pandangnya.

Dimensi lubang masuk yang pas untuk pengguna Bunker juga berbeda, disesuaikan ketinggiannya.

Untuk Bunker dengan ketinggian satu meter, lubang Bunker langsung dari permukaan tanah dari posisi Bunker tersebut.

Sedangkan Bunker dengan ketinggian 180 cm lubang masuk sekitar 70-80 cm dari permukaan tanah.

Berdasarkan tinjauan di lapangan ketinggian Bunker dirancang untuk pemakaian sesaat lebih tepat sebuah sarana untuk mengintai posisi musuh yang datang.

Jika terjadi kontak senjata, ketebalan dinding beton Bunker tak akan  mampu menembusnya.

Dari kajian di lapangan, tata letak dan posisi Bunker itu tampak dirancang dengan memperhatikan kondisi lingkungan sekitarnya.

Semua posisi Bunker menempati ketinggian lahan yang cermat dan strategis.

Selain di lahan perbukitan seperti Bunker di lahan Resto-Cafe Gumati dan PT Bank Mandiri, posisi ini sangat ideal saat menangkap kemunculan  obyek yang diintai.

Begitu pula dengan posisi Bunker di lahan PT KAI dan milik Abdurrahman Said Bajenet,  sangat ideal  karena pengintai menangkap tepat sasaran pada obyek yang diintainya.

Penemuan Bunker dalam jumlah yang relatif banyak yaitu sekitar sepuluh buah, tak hanya nenambah perbendaharaan  benda cagar budaya di Kota Bogor, juga akan membuka sejarah masa Kolonial Belanda berikut tinggalan-tinggalannya yang bermanfaat bagi perkembangan kebudayaan di Kota Bogor.

Kita tidak hanya melihat dari sisi buruk semata, Belanda yang telah menjajah kita.

Namun tidak bisa dipungkiri penjelajah, sejarahwan, arsitek dan  ilmuwan Belanda juga turut membuka cakrawala perkembangan Sejarah Bogor.

Dari masa Pra Pajajaran, masa Kolonial sampai pasca kemerdekaan. Tercatat misalnya, Abraham van Riebeeck dan Tim Ekpedisi yang meninjau kawasan Pakuan Pajajaran, Johannes Rach, C. M. Pleyte, K. F. Holle dan yang lainnya.

Semuanya telah memberi dan membuka jalan bagi pencerahan sejarah Bogor ke depan.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *