Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Demam Berdarah, Bagaimana Pencegahannya?

302
×

Demam Berdarah, Bagaimana Pencegahannya?

Sebarkan artikel ini

Oleh dr. Muhammad Arvid Suhada, SpKKLP, MKM (Kepala Puskesmas Cigudeg)

demam.
Foto: Ilustrasi nyamuk demam berdarah.

Kobra Post Online –  Situasi hujan yang beberapa bulan akhir ini melanda merata di Kabupaten Bogor membuat nyaman sejuk semilir angin disertai dengan suara indah rintik hujan ternyata menyimpan beberapa penyakit yang  timbul saat musim hujan.

Demam berdarah, nama yg tidak asing didengar oleh masyarakat awam. Disebut demam, karena memang gejala yang timbul demam. Disebut berdarah karena menyebabkan perdarahan, seperti timbul mimisan, gusi berdarah, BAB berdarah, bercak kemerahan di kulit karena perdarahan dan bahkan dapat timbul kematian. Demam berlangsung seperti pelana kuda, demam di 1-3 hari pertama, demam turun di hari 3-5 dan naik lagi di hari2 berikutnya saat fase pemulihan.

Demam berdarah memiliki gejala khas selain demam dan berdarah adalah nyeri, nyeri kepala, nyeri perut, nyeri sendi. Gejala berlangsung selama +7 hari, dengan kondisi kritis di hari ke 3 sampai 5 saat demam mulai menurun. Kenapa kritis, karena di hari itu trombosit bisa turun drastis dan dapat menyebabkan gejala perdarahan, dari ringan sampai berat. Gejala juga disertai dengan penurunan demam, hingga syok pada hari ke 3-5, ditandai dengan akral tangan dan kaki dingin sehingga terapi yang utama adalah pemberian cairan.

Terdapat 53.131 kasus dengue di Indonesia yg ada hingga 26/3 di tahun 2024 dan dari sistem pemantauan penyakit, 5 kab/kota dengan data kasus tertinggi kota Bandung tercatat dengan jumlah kasus dengue sebanyak 1.741 kasus, disusul kota Kendari dengan 1.195 kasus, Bandung Barat 1.143 kasus, Kota Bogor 939 kasus, dan Subang 909 kasus (website kemenkes-P2P).

Pantauan peningkatan data kasus ini mengajak kita untuk lebih peduli terhadap pencegahan demam berdarah di musim penghujan ini.

Demam berdarah (DBD) disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegepty. DBD merupakan penyakit yg timbul biasanya di musim penghujan. Hal ini tidak lepas dari cara berkembang biak nyamuk di air bersih. Siklusnya meliputi telur- larva- pupa- nyamuk dewasa.

demam
Kepala Puskesmas Cigudeg, dr. Muhammad Arvid Suhada.
Baca juga: Ketua DPRD Ingatkan Pemerintah Kabupaten Bogor Siaga DBD

Dari telur hingga nyamuk dewasa membutuhkan waktu 7-10 hari, sedang telur nyamuk dapat bertahan hingga 8 bulan tanpa air, dan akan menetas apabila tertutup air. Setelah dewasa, nyamuk memerlukan darah manusia untuk berkembang biak. Setelah menggigit manusia perlu waktu 4-10 hari hingga gejala timbul.

Penanganan pencegahan tertularnya DBD adalah dengan menegakkan perilaku 3M+ (menutup, menguras dan mengubur/mendaur ulang tempat/ alat-alat yang dapat sebagai tempat menampung air bersih, plus mencegah gigitan nyamuk). Sehingga menghindari perkembangan telur nyamuk menjadi dewasa. Dan pemberian bubuk abate di tempat-tempat penampungan air, agar jentik nyamuk mati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *