Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Apa Itu Rabies dan Bagaimana Mengatasinya?

836
×

Apa Itu Rabies dan Bagaimana Mengatasinya?

Sebarkan artikel ini

Oleh dr. Muhammad Arvid Suhada, SpKKLP, MKM. (Kepala Puskesmas Cigudeg)

Apa Itu Rabies dan Bagaimana Mengatasinya?
Kepala Puskesmas Cigudeg, dr. Muhammad Arvid Suhada, SpKKLP., MKM.

Kobra Post Online – Sahabat Kobra Post Online, dewasa ini mulai marak kembali kasus gigitan rabies. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mulai mengadakan sosialisasi terkait hal ini.

Walaupun kasus di Kabupaten Bogor belum teridentifikasi. Didapat dari situs Kemenkes, data terbanyak di wilayah hingga April 2023 sudah ada 31.113 kasus gigitan hewan penular penyakit anjing gila, 23.211 kasus gigitan yang sudah mendapatkan vaksin anti rabies, dan 11 kasus kematian di Indonesia.

Saat ini ada 26 provinsi yang menjadi endemis penyakit anjing gila, tapi hanya 11 provinsi yang bebas dari penyakit ini yakni Kepulauan Riau, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Papua Barat, Papua, Papua Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

Pengertian Rabies

Rabies nama lainnya disebut dengan penyakit anjing gila. Sesuai namanya hewan tersering yang menyebabkan penyakit ini adalah anjing dan 95% yang menyebabkan kematian adalah gigitan anjing gila. Namun ternyata bukan hanya anjing yang menyebabkan penyakit ini. Hewan seperti rubah, rakun, kelelawar, kucing dan monyet juga dapat menularkan.

Gejala pada manusia

Gejala pada manusia yang ditimbulkan adalah gejala flu dan gangguan otot di awal, dan menyebabkan gangguan neurologis di akhir yang dapat menyebabkan kematian.

  1. Gejala flu: demam, badan lemas dan lesu, tidak nafsu makan, susah tidur, sakit kepala hebat, sakit tenggorokan, pegal.
  2. Gejala neurologis: kesemutan, panas dan nyeri daerah luka, cemas berlebihan, takut berlebihan (takut air, berada di udara dan cahaya).

Gejala pada hewan

Hewan yang menggigit pun juga memiliki gejala yang dapat diprediksi memiliki sakit anjing gila. Gejala hewan biasanya kelakuannya berbeda dibanding kelakuan kesehariaannya dan tiba-tiba mati.

Gejala pada hewan: karakter hewan menjadi ganas dan tidak nurut pada pemiliknya, tidak mampu menelan, lumpuh, mulut terbuka dan air liur keluar secara berlebihan. Kemudian bersembunyi di tempat gelap dan sejuk, ekor dilengkungkan ke bawah perut di antara kedua paha, kejang-kejang, dan diikuti oleh kematian.

Pencegahan

Walaupun begitu penyakit anjing gila dapat dicegah. Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan vaksin kepada hewan peliharaan kita, dan memberikan vaksin anti rabies pada orang yang terindikasi tergigit hewan berpenyakit anjing gila.

Penanganan awal yang perlu dilakukan jika tergigit hewan terindikasi rabies adalah:

  1. Bersihkan luka dengan air mengalir
  2. Bersihkan dengan sabun
  3. Berikan antiseptik (alkohol, povidon iodin, dll)
  4. Segera ke UGD Puskesmas/ IGD RS yang memiliki VAR (vaksin anti rabies) atau SAR (serum anti rabies) untuk ditatalaksana lanjutan.

Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor menyiapkan VAR di beberapa wilayah kerja, Puskesmas Cigudeg salah satunya. Hanya karena stok terbatas, diharapkan kita semua dapat menjaga diri jangan sampai terkena gigitan hewan rabies, dan senantiasa memvaksin rabies hewan peliharaan kita yang dapat sebagai vektor penyakit anjing gila.

Demikian info ini, semoga dapat memberikan pengetahuan bagi sahabat Kobra Post Online.

Baca juga: Apakah Pemeriksaan dan USG Selama Kehamilan Penting?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *